Archive for the ‘Kesaksian’ Category

Mengintip Bach, Beethoven, Mozart…

Posted: 23 November 2011 in Kesaksian

Dengan rasa kagum sejarah mengabadikan nama komponis-komponis agung seperti Bach, Handel, Haydn, Mozart, Beethoven, Schubert dan lain-lain. Mereka adalah jenius yang menghasilkan musik yang memberi rasa indah kepada hati umat untuk berabad-abad lamanya. Mungkin kita menduga bahwa sebagai jenius mereka dengan mudah menghasilkan karya-karya besar. Dugaan itu keliru. Karya mereka bukan lahir begitu saja, melainkan melalui banyak pergumulan belajar dan berdoa. Marilah kita mengintip pergumulan mereka.

JOHANN SABASTIAN BACH (1685-1750) sudah menjadi yatim piatu pada usia sembilan tahun, justru pada saat ia belajar mengembangkan minatnya pada musik. Tetapi Bach berkemauan keras. Ia membaca buku hanya dengan sinar bulan yang masuk ke jendela kamarnya. Ia tidak segan berjalan kaki sejauh puluhan bahkan ratusan kilometer selama berhari-hari untuk bisa mendegarkan konser organ. Sebelum mengarah sebuah lagu, lama Bach berdiam diri … lalu di kertas kosong yang akan digunakannya ia menulis : J.J. (Jesu Juva, artinya Yesus, tolonglah saya) Kemudian kalau sudah selesai pada bagian akhir kertas itu Bach menulis : S.D.G. (Soli Deo Gloria, artinya Kemuliaan bagi Allah). Bach mengagumi Daud yang memberikan tempat yang penting pada nyanyian dan musik dalam ibadah. Dalam Alkitabnya, di bawah 1 Tawarikh 25, Bach mencatat :”Musik adalah buah Roh Kudus.” Bach juga sangat terkesan pada 2 Tawarikh 5:13-14 “Lalu para peniup nafiri dan para penyanyi itu serentak memperdengarkan paduan suaranya … Pada ketika itu rumah Tuhan dipenuhi awan … kemuliaan Tuhan memenuhi rumah Allah.”

GEORGE FREDERIC HANDEL (1685-1759) mempunyai cara lain dalam pergumulan mencari ilham. Untuk mengarang sebuah oratorium Handel mengurung diri selama berhari-hari di kamarnya. Ia tidak mau bertemu dengan siapapun. Pada suatu hari ia pernah keluar dari kamarnya memegang kertas-kertas berisi karyanya sambil menangis dan berteriak, “Saya telah melihat sorga, saya telah melihat Tuhan!”

FRANZ JOSEPH HAYDN (1732-1809) lahir dalam keluarga miskin di desa di pedalaman Austria. Ia mencari nafkah dengan jalan menjadi pemain biola di depan restoran. Baru kemudian hari ia bekerja sebagai musikus di rumah-rumah bangsawan. Haydn dijuluki “Bapak segala simfoni”, sebab ia mengarang begitu banyak simfoni. Sebelum ia mengarang suatu simfoni, ia lebih dulu bertelut di depan pianonya dan meneduhkan diri. Ia pernah menjelaskan, “Dalam keteduhan seperti itulah saya meminta bakat yang diperlukan untuk bisa memuliakan Tuhan dengan pantas.”

WOLFGANG AMADEUS MOZART (1756-1791) belajar piano pada usia empat tahun, dan pada usia enam tahun ia sudah bermain konser. Segala sesuatu berjalan begitu cepat dalam hidup Mozart. Ia melejit ke atas sebagai pemusik yang paling populer di Austria. Banyak orang jadi penggemarnya, tetapi banyak juga yang membenci dan iri kepadanya. Pernah Mozart menulis kepada ayahnya, “Papa jangan khawatir, saya dipelihara Tuhan. Saya sering takut Tuhan marah …, tetapi saya merasakan kemurahan hati dan kelemah-lembutan Tuhan.” Mungkin karena merasakan kemurahan Tuhan, maka Mozart bermurah hati kepada banyak orang. Ketika rekannya sakit, Mozart menggantikan kawannya untuk menyelesaikan karyanya, lalu seluruh pembayaran untuk karya itu diserahkan kepada kawannya. Mozart meninggal pada usia 35 tahun dalam keadaan yang mengenaskan. Untuk membeli peti jenazah pun tidak tersedia uang.

LUDWIG VON BEETHOVEN (1770-1827) terserang penyakit telinga menjelang usia 30 tahun, lalu ia menjadi tuli secara total. Bayangkan bagaimana terpukulnya seorang komponis lagu kalau ia menjadi tuli. Dalam kesedihannya ia menulis, “Aku merasa sepi, sangat sepi. Tetapi aku merasa Tuhan dekat.” Beethoven banyak membaca buku renungan. Buku kegemarannya adalah Imitatio Christi (artinya: Meniru Kristus) karangan Thomas a Kempis. Walaupun Beethoven tuli, namun ia tetap produktif sepanjang hidupnya dengan menghasilkan begitu banyak simfoni, oratorio, opera dan sonata piano yang menakjubkan. Salah satu warisannya adalah nyanyian “Kami Puji Dengan Riang” di Kidung Jemaat, no. 3.

FRANZ PETER SCHUBERT (1797-1828) lahir dalam keluarga guru sekolah dasar yang miskin. Untuk mengarang lagu ia tidak mampu membeli kertas, sehingga ia menulis di kertas bekas. Schubert meninggal dalam usia 32 tahun karena wabah typhus yang melanda perkampungan kumuh di kota Wina tempat ia tinggal. Dalam catatannya ia menulis : “Ketika saya menciptakan musik, saya beribadah kepada Tuhan, dan saya menciptakan musik supaya orang beribadah kepada Tuhan.” Tulisan di atas bukan bermaksud untuk mengatakan bahwa komponis-komponis besar itu orang-orang sempurna. Mereka manusia biasa dengan sifat buruknya masing-masing. Misalnya, Handel dikenal sebagai orang yang suka mengumpat dan memaki. Mozart kurang dewasa dalam kepribadiannya dan suka memboroskan uang untuk berfoya-foya. Beethoven gampang naik darah, sehingga ia pernah melemparkan makanan di piring ke wajah seorang pramusaji restoran hanya karena makanan itu tidak sesuai dengan yang dia pesan. Yang mau dicatat di sini adalah bahwa orang-orang jenius itu dengan rendah hati mencari Tuhan sebagai sumber ilham. Mereka merasakan kedekatan dan keakraban dengan Tuhan sebagai saat-saat yang mengilhami karya musik mereka. Mereka mengaku bahwa bakat mereka adalah pemberian Tuhan dan adalah pantulan kemuliaan Tuhan, karena itu untuk kemuliaan Tuhan jugalah mereka mempersembahkan karya mereka yang agung itu. Kata dan nada yang lahir dari jari mereka adalah sentuhan tangan Tuhan. Ilham yang mereka peroleh adalah percikan Roh Tuhan.

Sumber: Wiempy

 

Kesaksian Didik Nini Thowok

Posted: 23 November 2011 in Kesaksian

Sosok Didik Nini Thowok adalah sosok yang lekat dengan tarian humoris. Membawakan karakter perempuan dan gerak-gerak tarian yang ” diplesetkan”, Didik selalu berhasil membuat penontonnya tertawa terpingkal-pingkal. Setelah puluhan tahun belajar seni tari dari berbagai daerah, antara lain Jawa, Sunda, Bali, dan Jepang, kini Didik berhasil memadukan semua gaya itu menjadi tarian dengan gayanya sendiri yang khas dan humoris. Dengan kemampuannya itu Didik meraih sukses sebagai penari yang melintas batas budaya dan negara.

Penampilannya yang selalu mengundang kegembiraan itu tidak hanya dapat dinikmati di atas panggung tapi juga dalam hidup kesehariannya. Tawa renyah yang selalu dihadirkannya seolah membuat orang tidak percaya bahwa iapun pernah menderita. Padahal sebenarnya kehidupan lelaki kelahiran Temanggung, 13 November 1954 itu tidak tergolong berkelimpahan.

Terlahir sebagai Kwee Tjoen Lian yang kemudian diganti menjadi Kwee Yoe An karena sakit-sakitan, ia sulung dari lima bersaudara pasangan Kwee Yoe Tiang dan Suminah. Keluarga besarnya hidup pas-pasan. Ayahnya pedagang kulit sapi dan kambing yang bangkrut dan kemudian menjadi supir truk.

Ibunya membuka warung kelontong kecil-kecilan. Begitu seret rejeki keluarga ini sampai-sampai Didik kecil harus ikut bekerja membantu orang tuanya.

Meski dari segi materi tumbuh dalam keluarga yang berkekurangan tetapi Didik kecil selalu berkelimpahan dengan kasih sayang. Dalam kesempitan materi, ia menikmati masa kecilnya dengan bekerja, belajar, dan menonton berbagai kesenian, ketoprak, ludruk, dan wayang yang akhirnya mengasah rasa seninya.

Di masa itu, Didik bukan hanya belajar bekerja keras tapi juga belajar bersabar. Sejak kecil ia memang suka membawakan tarian yang lemah gemulai seperti perempuan, karena itu ia diejek oleh orang-orang sekitarnya, “Kamu ini anak laki-laki apaan sih? Kok menarinya seperti perempuan?”.

Setiap kali diejek, ia menjadi sangat sedih. Ia hanya bisa diam, tidak membalas dan tidak mengadu pada orang tuanya. Ia hanya berdoa sambil menangis, “Tuhan, aku marah tapi aku tidak akan membalasnya. Aku yakin Kamulah yang akan membalaskannya untukku.” Setelah itu, iapun menjadi lega dan malah lebih semangat berlatih menari. Baru bertahun-tahun kemudian doanya itu terjawab.

Dari pengalaman hidup, perlahan-lahan iapun memahami bahwa semua hal yang membuatnya sedih, kemiskinan, dan penghinaan hanyalah cara Tuhan mengajaknya bercanda. Ia menjadi yakin Tuhan tidak akan membuatnya sengsara sehingga ia lebih tenang dan pasrah menghadapi berbagai persoalan. Pemahamannya ini merupakan buah pengasuhan orang tua dan kakek neneknya yang cukup disiplin. Pendidikan dan kasih sayang mereka menjadikannya pribadi yang setia dalam doa, tegar, suka bekerja keras, dan berperasaan halus.

Semasa kuliah di ASTI ( Akademi Seni Tari Indonesia ), ketika Didik mulai mendapat honor dari pertunjukan dan melatih menari, ia ingin sekali membeli sepeda motor supaya tidak kelelahan mengayuh sepedanya kesana kemari. Sejak itu ia betul-betul berhemat. Setelah uangnya terkumpul Rp 200.000, ia sangat gembira, motor yang diidamkan terbayang di depan mata. Tiba-tiba ia teringat ibunya. Bergegas ia pulang ke Temanggung dan mendapati perut ibunya membesar karena kanker. Dengan uang Rp 200.000 itu, ia segera membawa ibunya ke Yogyakarta untuk dioperasi. Operasi itu berhasil baik dan ibunyapun sehat kembali. Didik sangat bahagia, tak secuilpun rasa kecewa menghinggapinya karena belum bisa mendapatkan sepeda motor. Bagi dia kesehatan dan kebahagiaan ibunya diatas segala harta yang bisa ia punya. Ia memahami, saat itu Tuhan memang hanya mencandainya karena selang beberapa tahun, Didik bukan hanya bisa membeli sepeda motor tapi bahkan mobil dan rumah.

Sedari kecil dengan berbagai cara Didik belajar bersyukur dan berdoa. Ia suka ikut kakeknya yang beragama Konghucu berdoa di kelenteng dan neneknya yang Kristen ke gereja. Kini ia adalah pengikut Kristen Protestan yang taat. Ia mengakui bahwa ia adalah laki-laki yang cengeng (mudah menangis) setiap kali berdoa. Sebenarnya ia ingin sekali rajin ke gereja tapi kesibukan yang sangat padat membuatnya sering tidak punya kesempatan untuk melaksanakannya setiap minggu. Untuk itu setiap ada kesempatan ia mengundang pendeta untuk mengadakan persekutuan doa di rumahnya. Dalam persekutuan doa itulah ia selalu terharu dan menangis saat memberi kesaksian akan kebesaran Tuhan yang telah ia alami.

Salah satu kesaksiannya adalah tentang rahasia kesuksesannya. Dengan mantap ia mengatakan ” Ora et Labora “, dalam segala kesibukan saya selalu berdoa, dimanapun. Setiap kali akan manggung, saya selalu menyediakan waktu untuk berkonsentrasi, kemudian berdoa Syahadat Para Rasul, Bapa Kami dan Salam Maria dari buku doa pemberian Suster Leonie, kakak angkat saya. Tak lupa saya juga selalu mohon restu pada semua guru-guru tari saya yang telah almarhum.

Selama bertahun-tahun Didik sungguh-sungguh merasakan bahwa doa adalah kekuatan di balik semua kesuksesannya. Keyakinan ini membuatnya tidak berani sombong.” Saya mengakui, ketika menari seolah-olah ada kekuatan di luar diri yang ikut menggerakkan dan menghiasi tubuh saya. Saya yakin, kekuatan saya sendiri tidak akan mampu menyelenggarakannya tetapi kekuatan itulah yang menjadikan tarian yang saya bawakan terlihat begitu indah dan memberi kegembiraan bagi banyak orang”.

Menurut pengakuannya sudah ada banyak orang yang mengamini hal itu. Mereka bilang, ketika menonton Didik menari, mereka melihat pancaran aura yang sama sekali lain dari kesehariannya. Misalnya, dalam suatu pertunjukan seorang ibu melihat ada burung merpati mengelilingi Didik menari. Setelah pertunjukan rampung, ia langsung menelepon Didik menyatakan kekagumannya, ” Proficiat, Mas! Tarianmu benar-benar indah, apalagi ada burung merpatinya “. Kaget juga Didik menerima komentar itu karena sebenarnya ia sama sekali tidak menggunakan burung merpati dalam tariannya itu.

Dalam suatu perjalanan ke luar negeri, tas Didik yang berisi passport, uang, kamera, dan dokumen berharga lainnya ketinggalan di kereta api.

Menurut staf KBRI yang dilaporinya tidak ada harapan tas akan kembali. Tentu saja Didik shock, tidak bisa makan dan tidur, tapi selang 2 hari setelah kejadian ia ditelepon oleh staf KBRI bahwa tasnya telah ditemukan. Ajaib juga, setelah diperiksa semua isinya utuh, ini pasti karena buku doa kumal pemberian Suster Leonie ada di dalamnya, Didik hanya bisa tertawa bahagia. Lagi-lagi Tuhan mengajaknya bercanda.

Dalam hidup Didik, ada begitu banyak mukjizat yang telah dibuat Tuhan. Dulu Didik masih berdebar-debar dan menangis sedih setiap kali menghadapi persoalan, tapi kini ia benar-benar tenang dan pasrah. Bagi Didik, Tuhan sering kali memberinya hadiah-hadiah yang tak terduga dan membuatnya bahagia. Pernah pada suatu tur kebudayaan di Eropa, karena perubahan jadwal yang tak terduga, ia tiba-tiba punya kesempatan berziarah ke Vatikan dan berdoa di Gereja St. Petrus dengan khusyuk, ia juga sempat ke Gunung Monserrat untuk mengunjungi Patung Bunda Maria Hitam.

Itulah Didik Nini Thowok yang kesuksesannya tak bisa dilepaskan dari ketekunannya berdoa. Semakin ia berdoa, semakin ia meyakini bahwa Tuhanlah satu-satunya kekuatan dalam hidupnya. Dengan demikian, ia tetap tidak sombong. Didik tetap hidup dengan sederhana di rumahnya yang sederhana di Jl. Jatimulyo, Yogyakarta, di pinggir sungai yang ditinggalinya sejak tahun 1980-an.

Kini, setelah semua cita-cita masa kecilnya terwujud, ia hanya ingin bersyukur dan bersyukur. Untuk itu ia berbagi kebahagiaan dengan mendirikan yayasan yang menyantuni biaya pendidikan 60 anak. Dan di usianya yang ke-50, kebahagiaannya semakin lengkap ketika ia boleh mengasuh seorang bayi laki-laki yang ia beri nama Aditya Awaras Hadiprayitno, setelah menantikan selama bertahun-tahun.

Menjadi saksi kebesaran Tuhan atas dirinya, ia hanya bisa berkata, “Saya percaya, kesuksesan dan kebahagiaan saya adalah jawaban Tuhan atas semua doa-doa saya. Bahkan sekarang tidak ada lagi yang bisa menghina saya karena menarikan tarian perempuan. Ya, Tuhan memang selalu menguji saya sampai batas waktu terakhir, sampai-sampai, setiap kali saya berdoa, saya tidak tahu lagi apakah saya harus menangis atau tertawa. Memang, Tuhan itu suka bercanda.”

“Love is life and life is love,you must first love yourself before you can give love freely and anyone can love you.” by patti quinn “The Irish Poet”

“There is not a single inch in the whole domain of our human existence over which Christ, who is sovereign over all, does not cry: Mine!”
Itulah kalimat terkenal dari Abraham Kuyper yang masih terus menggema sampai saat ini. Dilahirkan 29 Oktober 1837 di Maassluis, Belanda, dengan ibu seorang guru dan ayah seorang gembala di Dutch Reformed Church.

Sebagai seorang mahasiswa muda di akhir 1850-an, Kuyper diajar berdasarkan pekembangan teologi modern Jerman dan Belanda yang sangat liberal. Kehidupan kampusnya dipengaruhi banyak oleh professor teologinya, J.H. Scholten (1811-1885) dan professor literaturnya, M. de Vries (1820-1892).

Salah satu pengaruh yang didapatnya adalah ketika Kuyper – atas undangan de Vries – berhasil menggondol medali emas dan penghargaan lainnya atas sebuah perlombaan penulisan essay yang bertema tentang perbandingan pemikiran Calvin dan J. A Lasco atas gereja. Dia menyelesaikan penulisan ini selama tujuh bulan, dan akhirnya keletihan dan tidak dapat mengikuti studinya. Dengan terpaksa, Kuyper mengajukan istirahat selama enam bulan. Dia akhirnya menyelesaikan studi dan paper tersebut dijadikannya disertasi doktoralnya (Th.D.) di Universitas Leyden, Belanda. Sebelumnya, Kuyper menyelesaikan tingkat sarjananya dalam bidang literature, filsafat dan bahasa klasik dengan summa cum laude.

Gembala yang Diubahkan
Kuyper menjadi gembala pada kongregasi pertamanya di sebuah desa, Beesd. Di sini Tuhan mengubahnya menjadi seorang beriman ortodoks melalui “sekumpulan kecil Calvinis keras kepala yang sudah ketinggalan zaman” yang sangat bertentangan dengan teologi liberalnya. Kumpulan orang-orang sederhana ini begitu kuat imannya dan pemahaman atas doktrin tradisional Calvin. Dalam setiap perbincangan, mereka membicarakan tentang Kebenaran Sejati yang telah menjadi abstrak dalam pemikiran Kuyper yang liberal. Kuyper mengungkapkan kesaksiannya atas jemaat tersebut dengan mengatakan:

“I did not set myself against them, and still thank my God that I made the choice I did. Their unwavering persistence has been a blessing for my heart… In their simple language, they brought me to that absolute conviction in which alone my soul can find rest – the adoration and exaltation of a God who works all things, both to do and to will, according to his good pleasure.” (Louis Praamsma, Let Christ be King: Reflection on the Life and Times of Abraham Kuyper, Jordan Station, Ontario, Canada: Paideia Press, 1985.p.49)

Berangkat dari titik ini, Kuyper menjadi sangat dipakai Tuhan dalam pelayanan Firman Tuhan. Kuyper membentuk satu pengajaran Firman Tuhan dan pemahaman iman reformed ortodoks. Dengan pemahaman yang semakin dewasa secara biblical, Kuyper banyak mengadakan perubahan dalam Dutch Church dan masyarakat Belanda. Perubahan ini berpengaruh dalam penggembalaan gereja-gereja di Utrecht dan Amsterdam dan masih tersisa sampai pada abad ke-20.

Jurnalis
Kuyper menjadi editor-in-chief pada koran mingguan De Heraut (The Herald) mulai 1871 dan chief editor pada harian De Standaard (The Standard) sejak 1872. Melalui media ini Kuyper memberikan kepemimpinan yang jelas dan inspirasional yang sangat berpengaruh terhadap reformasi kekristenan – dari teologi yang liberal menuju teologi reformed di Belanda. Kuyper menulis kepada orang kelas bawah seperti petani, nelayan, dan pegawai toko sama-baiknya dengan dia menulis kepada guru-guru sekolah, pelajar, mahasiswa, gembala dan pebisnis. Pesannya singkat namun dalam: “prinsip-prisip Iman Kristen terhadap dosa, keselamatan dan pelayanan harus diaplikasikan dalam setiap area kehidupan untuk kemuliaan Allah.”

Dalam sebuah komentarnya pada De Standaard tanggal 18 September 1877, atas sebuah pergumulan percaya dan ketidakpercayaan mengenai permasalahan konsep pendidikan publik dan pendidikan Kristen, Kuyper menuliskan,

“Those who have definitely broken with Christendom defend the religiously neutral public school with all their might. They may claim that such a school is not anti-Christian, but is what it promotes. Christians, on other hand, recognize that education in Christian virtues without Christ leads to doctrinal vagueness. They deny that Christian Education leads to rank intolerance. The Liberals in public express their hatred for Christian education, while many Christian schools witness to the truth of our claims.”

Kuyper menghabiskan waktu hampir 50 tahun sebagai editor pada harian De Standaard. Dia menghasilkan kira-kira 4.700 tulisan pada harian ini, dengan berbagai topik mulai filsafat, teologi, pendidikan, politik dan budaya. Selain itu Kuyper juga menulis beberapa buku teologi, salah satu yang terkenal berjudul The Crown of Christian Heritage, yang aslinya ditulis dengan judul Lectures on Calvinism (Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1931)

Politikus dan Negarawan
Pada tahun 1869, Kuyper bertemu dengan Green van Prinsterer, seorang Calvinis yang juga anggota parlemen. Dengan Prinsterer, Kuyper membentuk suatu partai politik modern bernama Anti-Revolutionary Party. Partai ini memiliki program politik yang mencakup semua bidang hukum publik, pergumulan sekolah, masalah penjajahan dan masalah- masalah sosial. Kuyper dan partainya juga mencetuskan penghentian penjajahan atas negara-negara koloni Belanda dan perbaikan kesejahteraan buruh industri. Di akhir 1901, partai ini meraih suara yang sangat besar di parlemen, yang mengantarkan Kuyper menjadi Perdana Menteri Belanda. Kuyper melayani dalam kapasitas ini sampai pada 1905.

Fitur karakteristik dalam pemikiran politik yang diperkenalkan oleh Abraham Kuyper adalah prinsip soevereignity in eigen kring atau dalam bahasa Inggrisnya Sphere Sovereignity. Sphere Sovereignity berimplikasi pada tiga hal: (1) Kedaulatan yang Mutlak hanya milik Allah; (2) semua kedaulatan yang ada di muka bumi berada di bawah dan diturunkan dari Kedaulatan Allah; (3) tidak ada satu kedaulatan di bumi yang lebih tinggi dari kedaulatan lain yang ada di bumi. Sphere sovereignity berfungsi sebagai cara untuk membatasi manusia dan institusi yang korup dan memberikan tuntunan dalam tindakan ketika konflik terjadi.

Pendidik dan Teolog
Selain mengajar di Free University, Belanda, yang dibentuk Kuyper untuk menghasilkan sarjana-sarjana menantang jamannya saat itu, melalui kuliah-kuliahnya di Princeton Theological Seminary dan Westminster Seminary Kuyper juga membuka wawasan teologia bagi dunia- berbahasa-Inggris dengan Stone Lectures, judul yang dibawakannya dalam mata kuliah Calvinisme. Kuliah ini adalah sebuah pemahaman komprehensif atas kekristenan yang ditarik dari tradisi Calvin. Stone lectures berisi enam diktat membahas tentang: (1) On Calvinism as a Life System; (2) On Calvinism and Religion; (3) On Calvinism and Politics; (4) On Calvinism and Science; (5) On Calvinism and Art dan (6) On Calvinisme and the Future. Dalam teologi, J. Gresham Manchen dari Baltimore dan Cornelius van Til adalah dua orang yang sangat dipengaruhi Kuyper Hampir semua hidup Abraham Kuyper dibaktikan untuk men-TUHAN-kan Kristus dalam segala aspek. Sangat sulit untuk menjumpai seorang gembala yang juga teolog, politikus, jurnalis, pendidik, ilmuwan, budayawan di zaman kita ini.

“Kuyper”s greatest legacy is the witness of a worldview – a witness that is greatly needed in our dying culture.”
McKendree R. Langley