Archive for the ‘Ke-Allah-an’ Category

Satu Kesatuan yang ESA

Posted: 25 Maret 2012 in Ke-Allah-an

Menjadi satu keprihatinan bagi saya pribadi melihat anak2 Tuhan menjadi binggung tentang apa itu TRINITAS dalam Alkitab. Pertanyaannya adalah, apakah dalam Alkitab ada disebutkan tentang istilah Trinitas? Tentu saja jawabannya tidak ada. Akan tetapi jika anda seorang pecinta Alkitab dan suka membaca dan meneliti Alkitab, maka anda akan temukan disana bahwa dengan tidak munculnya istilah Trinitas dalam Alkitab bukan berarti Trinitas itu tidak ada. Melalui catatan ini, mari kita belajar singkat tentang TRINITAS YANG ESA.Banyak ajaran-ajaran yang menggugat, mempertanyakan bahkan menolak istilah Trinitas/Tritunggal tetapi pada intinya ajaran-ajaran itu menolak untuk menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan Yang Mahakuasa. Kita akan melihat beberapa aspek dasar dari apa yang dikatakan Alkitab mengenai Bapa, Anak (Yesus Kristus) dan Roh Kudus. Allah yang Esa dinyatakan sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus, kesemuanya adalah Allah tetapi setiap Oknum/Pribadi dibedakan tersendiri.

Istilah ‘Trinitas’ ini akhirnya dirumuskan pada Konsili Nicea tahun 325 M. Istilah Trinitas dicetuskan oleh bapa-bapa gereja mula-mula untuk melawan doktrin-doktin bidat Gnostik yang mengajarkan bahwa Yesus tidak setara dengan Allah. Penting untuk disadari bahwa ungkapan seperti “Trinitas dalam keesaan”, pertama-tama bukanlah ungkapan bersifat filsafat ataupun metafisis. Itu adalah ungkapan yang didasarkan pada penyataan historis. Orang terpaksa merumuskan doktrin tentang Trinitas, sebab kenyataan-kenyataan ini sejarah ini tak dapat dijelaskan dengan cara lain manapun juga.

Perjanjian Baru adalah satu-satunya sumber yang sahih bagi setiap orang untuk memahami dengan baik siapakah Yesus orang Nazaret.

Dengarlah hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!

(Ulangan 6: 4) Allah bersifat jamak, tetapi Ia juga bersifat tunggal (satu). Kata Ibrani untuk ‘satu’ yang digunakan di sini dan berlaku bagi Allah adalah ‘echad’. Kata ini menunjukan kesatuan dengan elemen-elemen komponen. Dalam Kejadian 2: 24, kata yang sama, ‘echad’, digunakan lagi: “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu [echad] daging.” Kata ‘echad’ yang digunakan disini bukanlah kata untuk kesatuan yang mutlak tidak dapat dibagi, yaitu ‘yachid’. Kata Ibrani yang digunakan dalam ayat ini, ‘echad’, berlaku juga bagi pernikahan. Ini menggambarkan suatu kesatuan yang terdiri dari dua pribadi yang berbeda dipersatukan. Namun, dalam pemwahyuan Allah yang alkitabiah, bukan dua, melainkan tiga Pribadi yang menghasilkan kesatuan (Esa), yaitu kesatuan di mana juga ada kemajemukan.

Jadi, orang Kristen menyembah Tuhan yang Esa (monoteisme) bukan banyak tuhan (politeisme) dan pernikahan Kristen adalah pernikahan monogami bukan poligami. Allah yang Esa adalah Bapa, Yesus Kristus dan Roh Kudus. Mereka adalah satu [echad] tetiap setiap Oknumnya adalah berbeda. Saya berprinsip bahwa istilah Trinitas memiliki makna yang identik dengan kata Ibrani ‘Echad’ untuk mewakili kesatuan yang memiliki sifat kemajemukan dalam diri Allah.Kita harus ingat bahwa Allah jauh di atas dan berada di luar jangkauan pikiran manusia. Kalau kita dapat sepenuhnya mengerti Allah, itu berarti Ia bukanlah Allah dan tentu saja Allah seperti itu bukanlah Allah yang dinyatakan oleh Alkitab kepada kita. Apa yang kita tahu tentang Allah hanyalah apa yang diberitahukan-Nya kepada kita mengenai diri-Nya.

Alkitab (PL dan PB) dengan jelas menyatakan bahwa Allah adalah Esa. Bapa adalah Allah, Yesus Kristus adalah Allah, Roh Kudus adalah Allah bukan berarti kita menyembah tiga Allah tetapi yang benar adalah satu Allah yang berpusat pada tiga Oknum/Pribadi.

I. BAPA

Dalam Perjanjian Lama (PL), Yahweh dipanggil Bapa oleh bangsa Israel sebagai Allah mereka. Yesaya 63: 16, kita membaca, “Bukankah Engkau Bapa kami? Sungguh Abraham tidak tahu apa-apa tentang kami, dan Israel tidak mengenal kami. Ya TUHAN [Yahweh], Engkau sendiri Bapa kami; nama-Mu ialah “Penebus kami” sejak dahulu kala.” Kita telah memahami bahwa Yahweh dipanggil Bapa oleh para nabi dan bangsa Israel pada zaman PL. Dalam Mazmur 81: 11, Allah berfirman: “Akulah TUHAN [Yahweh], Allahmu yang menuntun engkau keluar dari tanah Mesir:…”, Yahweh adalah Allah yang menuntun bangsa Israel keluar dari tanah Mesir dan Dia dipanggil “Bapa”. Dalam Yesaya 64: 8, kita akhirnya mengetahui dengan pasti bahwa Bapa adalah Sang Pencipta. “Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu.

Bapa adalah Allah, dan Dia memiliki hak untuk menghapus dosa. Dalam Yesaya 44: 22 yang berjudul TUHAN [Yahweh] Penebus Israel, Allah berfirman, “Aku telah menghapus segala dosa pemberontakanmu seperti kabut diterbangkan angin dan segala dosamu seperti awan yang tertiup.”

Sebutan “Bapa” memperlihatkan macam hubungan yang harus ada antara Allah dan manusia. Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan garis keturunan secara darah daging. Jadi sebutan “Bapa” tidak ada kaitannya sama sekali dengan kawin mengawinkan. Orang Kristen percaya bahwa Allah yang Esa itu Trinitas. Apabila suatu penamaan diperlukan untuk membedakan Yesus dan Roh Kudus dan Oknum satu lagi dalam Trinitas, orang Kristen memakai sebutan “Bapa”, yang sudah dipakai oleh Yesus sendiri sebagai sebutan khusus bagi Oknum pertama

II. YESUS KRISTUS

Sebelum datang ke dalam dunia Yesus Kristus adalah Firman Allah yang hidup (Yoh.1:1). Dalam Yesaya 55: 11, Allah berkata, “Demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan ia akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.” Yesus Kristus adalah sang Firman, Dialah yang melaksanakan kehendak Bapa. Pernyataan dalam Yesaya 55: 11 sangat lah identik dengan pengakuan dari sang Firman itu sendiri, dalam Yohanes 8: 42 kita membaca, “Kata Yesus [sang Firman] kepada mereka [orang Yahudi]: ‘Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku…’” Yesus Kristus adalah Sang Firman yang bertugas melaksanakan kehendak Bapa dan Dia juga memiliki otoritas seperti halnya Bapa. Dalam Kejadian pasal 1, kita mengetahui bahwa Allah menciptakan langit dan bumi melalui firman-Nya. Dalam Yohanes 1: 2 dinyatakan bahwa “segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.”

“Firman itu telah menjadi manusia dan diam diantara kita,…”(Yoh.1: 14), Sang Firman telah datang ke dalam dunia menjadi manusia, hal ini sesungguhnya adalah penggenapan nubuat yang telah di nyatakan Allah melalui nabi Yesaya. Dalam Yesaya 9: 5, kita membaca “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.” Yesus Kristus adalah Oknum kedua dari Trinitas dan Dialah yang melaksanakan kehendak Bapa. Dia datang ke dalam dunia untuk melaksanakan misi ilahi yang adalah untuk menebus dosa-dosa seluruh umat manusia. Melalui Yesus Kristus, Allah dengan bebas dapat mengampuni dosa-dosa setiap orang yang percaya pada Yesus.

Yesus Kristus digambarkan bukan hanya tanpa dosa [kudus/suci] (Lukas 1: 35), tapi Dia juga memiliki kuasa untuk mengampuni dosa manusia seperti halnya Allah (Lukas 5: 20). Arti dosa pertama-tama adalah pelanggaran terhadap Allah, dan karena itu jelas bahwa hanya pihak yang dilanggar lah yang dapat mengampuni pelanggar. Justru mengampuni dosa adalah mutlak hak Allah sendiri saja jadi tidaklah mengherankan bahwa waktu Yesus menyembukan seseorang yang lumpuh dengan mengatakan, “Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni” (Markus 2: 5), orang-orang yang mendengarnya bertanya, “Siapakah orang ini?”

Dalam Yohanes 10: 33, kita dapat mengerti bahwa alasan mengapa orang-orang Yahudi ingin merajam Yesus adalah karena Dia menyatakan bahwa diri-Nya adalah sama dengan Allah. Orang-orang Yahudi itu berkata kepada Yesus, “..Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah.” Reaksi orang-orang Yahudi ini timbul karena Yesus berkata kepada mereka, “Aku dan Bapa adalah satu.”

Yesus juga sering mengidentikan diri-Nya dengan sebutan ‘Anak Allah’. Sekali lagi yang perlu kita camkan adalah sebutan “Anak” bukan berarti ‘beranak’ dan juga bukan berarti Dia adalah allah kelas dua yang tidak setara dengan Allah Bapa. Sudah cukup dikatakan untuk membuatnya jelas, bahwa walaupun Yesus adalah Allah, namun Dia bukanlah Oknum yang sama dengan Allah Bapa. Ada perbedaan kepribadian dalam keilahian itu. Tapi bagaimanakah perbedaan ini diungkapkan dalam bahasa dan pikiran manusia? Allah selalu menyatakan diri-Nya kepada manusia dalam cara-cara yang tidak asing bagi kita dan dapat kita mengerti. Jadi, hubungan pribadi dalam keilahian itu harus diungkapkan dengan memakai pengertian hubungan (emosional) secara manusia yang paling dekat.

Ada hubungan timbal balik dan hubungan kasih antara Allah dan Yesus yang paling dapat dimengerti oleh manusia sebagai hubungan Bapa-Anak. Dapat dikatakan bahwa Yesus senantiasa dikirim Bapa, untuk melaksanakan kehendak Bapa, dikasihi Bapa, dan takluk kepada Bapa. Kepribadian hampir tak dapat dikatakan ada dalam suatu kevakuman. Kepribadian selalu mencakup hubungan dengan kepribadian-kepribadian lain. Kalau dikatakan bahwa Allah adalah Oknum, atau bahwa Ia adalah kasih, tentulah ini berarti bahwa ada hubungan timbal balik “di dalam Allah”.

III. ROH KUDUS

Roh Kudus adalah Allah tetapi Ia adalah Oknum yang berbeda dari Bapa dan Firman (Yesus). Roh Kudus bukanlah sekedar kuasa yang abstrak atau samar-samar dari dalam diri Allah, Ia tidak bersifat pasif tetapi Ia adalah perantara yang melakukan kehendak Bapa dan Firman di alam semesta. Dalam Yesaya 63: 10, dinyatakan bahwa Roh Kudus dapat disakiti oleh dosa-dosa manusia. “Tetapi mereka memberontak dan mendukakan Roh Kudus-Nya,…” Hal ini membuktikan bahwa Ia adalah Allah. Bukankah kita semua tahu bahwa dosa adalah sikap pemberontakan terhadap Allah? Dalam Perjanjian Lama, Roh Kudus disebut juga sebagai Roh Allah, Roh TUHAN atau Roh. Dalam Yesaya 40: 13, Roh Kudus dinyatakan sebagai Yang mahatahu: “Siapa yang dapat mengatur Roh TUHAN atau memberi petunjuk kepada-Nya sebagai penasihat?” Bahkan dalam Kejadian 1: 2, dinyatakan bahwa Roh Kudus adalah Sang Pencipta, bersama-sama dengan Bapa dan Firman: “Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang diatas permukaan air.” Dalam Alkitab terjemahan King James Version (KJV), kata kerja untuk “melayang-layang” adalah “moved”. Kata kerja “moved” dalam kamus OXFORD memiliki arti “bertindak” (to take action) atau “melakukan sesuatu” (to do something). Roh Kudus ikut berperan serta dalam penciptaan langit dan bumi. Dialah Yang Mahakuasa.

Dalam PB, Yesus menyatakan bahwa Allah itu Roh (Yoh. 4: 24). Dalam Mrk. 3: 29 dan Mat. 12: 31-32, Sang Firman (Yesus) menyatakan bahwa hujat terhadap Roh Kudus adalah dosa yang tidak dapat diampuni. Di sini kita dapat melihat dengan jelas bahwa Yesus dan Roh Kudus adalah Oknum yang berbeda. Dalam Perjanjian Baru, Roh Kudus biasanya juga disebut sebagai Roh Kebenaran atau Roh Kristus.

Inilah beberapa pekerjaan yang dilakukan oleh Roh Kudus: Dia berbicara (Kis.8; 29; 13: 2; 1 Tim 4:1); Dia mengajar (Yoh. 14: 26); Dia tinggal bersama orang-orang percaya (Yoh. 14: 16-17); Dia akan memenuhi orang-orang percaya (Kis. 2: 4; Ef. 5:8); Dia membimbing orang-orang percaya (Gal. 5: 18); Dia menyelidiki segala sesuatu (1 Kor. 2: 10) dan Dia diutus Bapa dalam nama Yesus Kristus (Yoh. 14: 26).Dalam Roma 8: 26-27, Roh Kudus membantu orang-orang percaya dalam doa kepada Allah.

Dalam 1 Korintus 2: 10-11, rasul Paulus berkata “Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah. Siapa gerangan diantara manusia yang tahu,apa yang terdapat di dalam diri manusia selain roh manusia sendiri yang ada di dalam dia? Demikian pula tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat dalam diri Allah selain Roh Allah.”

PENUTUP

Bapa, Anak (Yesus) dan Roh Kudus, mereka adalah Allah yang Esa. Dalam Kejadian pasal 1 kita telah mengatahui bahwa langit dan bumi diciptakan oleh Allah Trinitas. Ketika seseorang menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya secara pribadi maka Bapa, Yesus dan Roh Kudus akan diam di dalam hati nya dan sesungguhnya orang itu menjadi ciptaan yang baru. Bapa akan berjalan di depannya sebagai perisai yang teguh, Yesus (Sang Firman) akan menyucikan dirinya dari segala dosa dan Roh Kudus akan membimbingnya untuk tetap hidup dalam kebenaran dan kasih sampai selama-lamanya.

SEKIAN.

Bertrand Russell, seorang ateis, menulis dalam bukunya ”Mengapa Saya Bukan Seorang Kristen” bahwa kalau benar bahwa segala sesuatu perlu penyebab, maka Allah juga perlu ada penyebab. Dari sini dia menyimpulkan bahwa jika Allah perlu ada penyebab, maka Allah bukan Allah (dan jikalau Allah bukan Allah, maka berarti tidak ada Allah). Pada dasarnya ini hanyalah suatu bentuk yang sedikit lebih tinggi dari pertanyaan anak-anak, ”Siapa yang membuat Allah?” Bahkan anak kecilpun tahu bahwa apa yang ada tidak berasal dari yang tidak ada, jadi jikalau Allah adalah ”sesuatu” maka pasti ada yang menyebabkan Allah, begitu bukan?

Pertanyaan ini menjebak karena di dalamnya terselip asumsi yang salah bahwa Allah pasti berasal dari sesuatu dan kemudian bertanya dari mana datangnya Allah. jawabannya adalah bahwa pertanyaan seperti itu sama sekali tidak masuk akal. Pertanyaan seperti itu sama dengan mempertanyakan, ”Bagaimana bau warna biru?” Biru bukan termasuk sesuatu yang punya bau, sehingga dengan demikian pertanyaan itu sendiri mengandung kesalahan. Demikian pula, Allah tidak termasuk dalam kategori sesuatu yang diciptakan atau yang memiliki asal usul. Allah tidak memiliki penyebab dan tidak diciptakan – Allah berada begitu saja.

Bagaimana kita mengetahui hal ini? Kita tahu bahwa dari tidak ada, tidak ada yang menjadi ada. Jadi kalau suatu saat, segala sesuatu betul-betul tidak ada, maka tidak ada sesuatu apapun yang akan menjadi ada. Tapi ternyata ada sesuatu yang berada. Karena tidak mungkin sama sekali tidak ada apa-apa, maka ada sesuatu yang harus selalu ada. Sesuatu yang selalu ada itu adalah yang kita sebut Allah.

Hal yang paling sulit dalam konsep Kristiani mengenai Tritunggal adalah tidak adanya penjelasan yang cukup untuk itu. Tritunggal adalah konsep yang tidak mungkin dapat dimengerti secara penuh oleh manusia apalagi untuk dijelaskan. Allah jauh lebih besar dan agung dari kita karena itu jangan berharap bahwa kita dapat memahami Dia secara penuh. Alkitab mengajarkan bahwa Bapa adalah Allah, Yesus adalah Allah, dan Roh Kudus adalah Allah. Alkitab juga mengajarkan bahwa hanya ada satu Allah. Meskipun kita memahami beberapa hal mengenai hubungan antar Pribadi dalam Tritunggal, pada akhirnya kita tetap tidak dapat mengerti secara keseluruhan. Namun demikian, tidak berarti bahwa Tritunggal tidak benar atau bukan berdasarkan ajaran Alkitab.

Ketika mempelajari topik ini kita perlu ingat bahwa kata “Tritunggal (Trinitas)” tidak digunakan dalam Alkitab. Istilah ini digunakan untuk menjelaskan ketritunggalan Allah, yaitu Allah yang terdiri dari tiga Pribadi yang berada bersama dalam kekekalan. Haruslah dimengerti bahwa ini TIDAK berarti ada tiga Allah. Tritunggal berarti satu Allah yang terdiri dari tiga Pribadi. Tidak ada salahnya menggunakan istilah Tritunggal atau Trinitas walaupun istilah ini tidak ditemukan dalam Alkitab. Lebih gampang mengucapkan “Tritunggal” atau “Trinitas” daripada mengatakan “Allah yang Esa yang terdiri dari tiga Pribadi yang berada bersama dalam kekekalan.” Jikalau Anda keberatan dengan ini, coba pertimbangkan: kata kakek juga tidak ada dalam Alkitab walaupun kita tahu bahwa dalam Alkitab ada banyak kakek. Abraham adalah kakek dari Yakub. Jadi jangan kandas pada istilah “Tritunggal” itu sendiri. Apa yang penting adalah bahwa konsep yang DIWAKILI oleh kata “Tritunggal” ada dalam Alkitab. Setelah pendahuluan ini, kita akan melihat ayat-ayat Alkitab yang mendiskusikan Tritunggal.

1) Allah itu Esa: Ulangan 6:4; 1 Korintus 8:4; Galatia 3:20; 1 Timotius 2:5

2) Tritunggal terdiri dari tiga Pribadi: Kejadian 1:1; 1:26; 3:22; 11:7; Yesaya 6:8; 48:16; 61:1; Matius 3:16-17; Matius 28:19; 2 Korintus 13:14. Untuk ayat-ayat dari Perjanjian Lama, pemahaman Bahasa Ibrani sangatlah menolong. Dalam Kejadian 1:1, kata “Elohim” adalah dalam bentuk jamak. Dalam Kejadian 1:26; 3:22; 11:7 dan Yesaya 6:8, kata jamak “kita” yang digunakan. Dalam Bahasa Inggris hanya ada dua bentuk kata, tunggal dan jamak. Dalam Bahasa Ibrani ada tiga macam bentuk kata: tunggal, dual dan jamak. Dual HANYA digunakan untuk dua. Dalam Bahasa Ibrani, bentuk dual digunakan untuk hal-hal yang berpasangan, seperti mata, telinga dan tangan. Kata “Elohim” dan kata ganti “kita” adalah dalam bentuk jamak- jelas lebih dari dua – dan menunjuk pada tiga atau lebih dari tiga (Bapa, Anak, Roh Kudus).

Dalam Yesaya 48:16 dan 61:1 sang Anak berbicara dan merujuk pada Bapa dan Roh Kudus. Bandingkan Yesaya 61:1 dengan Lukas 4:14-19 untuk melihat bahwa yang berbicara adalah Anak. Matius 3:16-17 menggambarkan peristiwa pembaptisan Yesus. Dalam peristiwa ini kelihatan bahwa Allah Roh Kudus turun ke atas Allah Anak sementara pada saat bersamaan Allah Bapa menyatakan bagaimana Dia berkenan dengan sang Anak. Matius 28:19 dan 2 Korintus 13:14 adalah contoh mengenai tiga Pribadi berbeda dalam Tritunggal.

3) Pribadi-Pribadi dalam Tritunggal dibedakan dari satu dengan yang lainnya dalam berbagai ayat. Dalam Perjanjian Lama, “TUHAN” berbeda dari “Tuhan” (Kejadian 19:24; Hosea 1:4). TUHAN memiliki “Anak” (Mazmur 2:7; 12; Amsal 30:2-4). Roh Kudus dibedakan dari “TUHAN” (Bilangan 27:18) dan dari “Allah” (Mazmur 51:12-14). Allah Anak dibedakan dari Allah Bapa (Mazmur 45:7-8; Ibrani 1:8-9). Dalam Perjanjian Baru, Yohanes 14:16-17, Yesus berbicara kepada Bapa tentang mengutus Sang Penolong, yaitu Roh Kudus. Hal ini menunjukkan bahwa Yesus tidak memandang diriNya sebagai Bapa atau Roh Kudus. Perhatikan pula saat-saat lain dalam kitab-kitab Injil ketika Yesus berbicara kepada Bapa. Apakah Dia berbicara kepada diri sendiri? Tidak. Dia berbicara kepada Pribadi lainnya dalam Tritunggal, – Sang Bapa.

4) Setiap Pribadi dalam Tritunggal adalah Allah. Bapa adalah Allah: Yohanes 6:27; Roma 1:7; 1 Petrus 1:2. Anak adalah Allah: Yohanes 1:1, 14; Roma 9:5; Kolose 2:9; Ibrani 1:8; Yohanes 5:20. Roh Kudus adalah Allah: Kisah Rasul 5:3-4; 1 Korintus 3:16 (Yang mendiami adalah Roh Kudus – Roma 8:9; Yohanes 14:16-17; Kisah Rasul 2:1-4).

5) Subordinasi dalam Tritunggal: Alkitab memperlihatkan bahwa Roh Kudus tunduk (subordinasi) kepada Bapa dan Anak, dan Anak tunduk (subordinasi) kepada Bapa. Ini adalah relasi internal dan tidak mengurangi atau membatalkan keillahian dari setiap Pribadi dalam Tritunggal. Ini mungkin adalah bagian dari Allah yang tidak terbatas yang tidak dapat dimengerti oleh pikiran kita yang terbatas. Mengenai Anak, lihat Lukas 22:42; Yohanes 5:36; Yohanes 20:21; 1 Yohanes 4:14. Mengenai Roh Kudus lihat Yohanes 14:16; 14:26; 15:26; 16:7, dan khususnya Yohanes 16:13-14.

6) Pekerjaan dari setiap Pribadi dalam Tritunggal: Bapa adalah Sumber utama atau Penyebab utama dari a) alam semesta (1 Korintus 8:6; Yohanes 1:3; Kolose 1:16-17); b) pewahyuan illahi (Yohanes 1:1; Matius 11:27; Yohanes 16:12-15; Wahyu 1:1); c) keselamatan (Yohanes 3:16-17); dan d) pekerjaan Yesus sebagai manusia (Yohanes 5:17; 14:10). Bapa MEMULAI semua ini.

Anak adalah agen yang melaluiNya Bapa melakukan karya-karya sbb: 1) penciptaan dan memelihara alam semesta (1 Korintus 8:6; Yohanes 1:3; Kolose 1:16-17); 2) pewahyuan illahi (Yohanes 1:1; Matius 11:27; Yohanes 16:12-15; Wahyu 1:1); 3) keselamatan (2 Korintus 5:19; Matius 1:21; Yohanes 4:42). Bapa melakukan semua ini melalui Anak yang berfungsi sebagai Agen Allah.

Roh Kudus adalah alat yang dipakai Bapa untuk melakukan karya-karya berikut ini: 1) penciptaan dan memelihara alam semesta (Kejadian 1:2; Ayub 26:13; Mazmur 104:30); 2) pewahyuan illahi (Yohanes 16:12-15; Efesus 3:5; 2 Petrus 1:21); dan 3) keselamatan (Yohanes 3:6; Titus 3:5; 1 Petrus 1:2); dan pekerjaan-pekerjaan Yesus (Yesaya 61:1; Kisah Rasul 10:38). Bapa melakukan semua ini dengan kuasa Roh Kudus.

Tidak ada ilustrasi-ilustrasi yang sering dipakai yang dapat dengan akurat menjelaskan Tritunggal. Telur (atau apel) tidak tepat karena kulit telur, putih telur dan kuning telur, semua adalah bagian dari telur dan bukan secara sendirinya telur. Bapa, Anak dan Roh Kudus bukanlah bagian dari Allah namun setiap mereka adalah Allah. Ilustrasi yang menggunakan air sedikit lebih bagus dalam menjelaskan Tritunggal, namun tetap tidak cukup. Cairan, uap dan es adalah bentuk-bentuk dari air. Bapa, Anak dan Roh Kudus bukanlah bentuk-bentuk dari Allah, setiap Pribadi itu adalah Allah. Dengan demikian, walaupun ilustrasi-ilustrasi ini memberi gambaran mengenai Tritunggal, gambaran yang diberikan tidak selalu akurat. Allah yang tidak terbatas tidak dapat digambarkan secara penuh dengan ilustrasi yang terbatas. Daripada menfokuskan diri pada Tritunggal, cobalah fokuskan diri pada kebesaran Allah dan bahwa Dia jauh lebih agung dari kita. “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya?” (Roma 11:33-34).

Apakah Allah ada? Saya merasa tertarik melihat begitu banyak perhatian yang diberikan kepada perdebatan ini. Survei terbaru mengatakan 90% masyarakat dunia percaya akan keberadaan Allah atau kuasa lain semacamnya. Namun demikian, tanggung jawab untuk membuktikan keberadaan Tuhan dilemparkan pada orang-orang yang percaya bahwa Tuhan ada. Menurut saya seharusnya terbalik.

Namun demikian, keberadaan Allah tidak dapat dibuktikan atau disangkal. Alkitab bahkan mengatakan bahwa kita harus menerima keberadaan Allah dengan iman. “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia” (Ibrani 11:6). Jikalau Allah menghendaki, Dia bisa muncul begitu saja dan membuktikan pada seluruh dunia bahwa Dia ada. Namun jikalau Dia melakukan hal itu, tidak diperlukan iman. “Kata Yesus kepadanya: `Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya’” (Yohanes 20:29).

Tidak berarti bahwa tidak ada bukti keberadaan Allah. Alkitab menyatakan “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi (Mazmur 19:1-4). Saat memandang bintang-bintang, kala memahami luasnya alam semesta, ketika mengamati keajaiban alam dan menikmati keindahan matahari terbenam – semua ini menunjuk pada Allah sang Pencipta. Jikalau semua ini masih tidak cukup, di dalam hati kita masih ada bukti keberadaan Allah. Pengkhotbah 3:11 memberitahu kita, “bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Jauh di dalam diri kita ada suatu pengenalan bahwa ada sesuatu yang melampaui hidup dan dunia ini. Kita dapat secara intelektual menolak pengenalan ini, namun kehadiran Allah di dalam diri kita dan melalui diri kita akan terus ada. Sekalipun demikian, Alkitab memperingatkan kita bahwa beberapa orang akan terus menyangkal keberadaan Allah, “Orang bebal berkata dalam hatinya: `Tidak ada Allah’.” (Mazmur 14:1). Karena lebih 98% orang-orang sepanjang sejarah, dalam semua kebudayaan dan peradaban, di semua benua, percaya akan adanya semacam Allah, pastilah ada sesuatu (atau seseorang) yang menyebabkan kepercayaan semacam ini.

Selain argumentasi Alkitab mengenai keberadaan Allah, ada pula argumentasi logis. Pertama-tama adalah argumentasi ontologis. Bentuk argumentasi ontologis yang paling populer pada dasarnya menggunakan konsep keTuhanan untuk membuktikan keberadaan Allah. Hal ini dimulai dengan mendefinisikan Allah sebagai, “sesuatu yang paling besar yang dapat dipikirkan.” Dikatakan bahwa ada itu lebih besar dari tidak ada; dan karena itu keberadaan yang paling besar haruslah ada. Kalau Allah tidak ada, maka Allah bukanlah keberadaan terbesar yang dapat dipikirkan – namun hal ini akan berlawanan dengan definisi mengenai Allah. Argumentasi ke dua adalah argumentasi teleologis. Argumentasi teleologis mengatakan karena alam semesta mempertunjukkan desain yang begitu luar biasa, pastilah ada seorang desainer Illahi. Contohnya, kalau saja bumi lebih dekat atau lebih jauh beberapa ratus mil dari matahari, bumi ini tidak akan mampu mendukung kehidupan seperti yang ada sekarang ini. Jikalau unsur-unsur alam di atmosfir kita berbeda beberapa persen saja dari apa yang ada, semua mahluk hidup di atas bumi ini akan binasa. Kemungkinan untuk sebuah molekul protein terbentuk secara kebetulan adalah 1:10243 (yaitu angka 10 yang diikuti oleh 243 angka nol). Sebuah sel terdiri dari jutaan molekul protein.

Argumentasi logis ketiga mengenai keberadaan Allah disebut argumentasi kosmologis. Setiap akibat pasti ada penyebabnya. Alam semesta dan segala isinya adalah akibat atau hasil. Pastilah ada sesuatu yang mengakibatkan segalanya ada. Pada akhirnya, haruslah ada sesuatu yang “tidak disebabkan” yang mengakibatkan segala sesuatu ada. Sesuatu yang “tidak disebabkan” itu adalah Allah. Argumentasi keempat dikenal sebagai argumentasi moral. Setiap kebudayaan dalam sejarah selalu memiliki sejenis hukum/peraturan. Setiap orang memiliki perasaan benar dan salah. Pembunuhan, berbohong, mencuri dan imoralitas hampir selalu ditolak secara universal. Dari manakah datangnya perasaan benar dan salah ini kalau bukan dari Allah yang suci?

Sekalipun demikian, Alkitab memberitahu kita bahwa orang-orang akan menolak pengetahuan yang jelas dan tak dapat disangkal mengenai Allah, dan percaya kepada kebohongan. Roma 1:25 berseru, “Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya, amin.” Alkitab juga memproklamirkan bahwa manusia tidak dapat berdalih untuk tidak percaya kepada Allah, “Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih” (Roma 1:20).

Orang-orang menolak untuk percaya kepada Tuhan karena “tidak ilmiah” atau “karena tidak ada bukti.” Alasan sebenarnya adalah begitu orang mengaku bahwa Allah itu ada, orang sadar bahwa mereka harus bertanggung jawab untuk segala sesuatu yang dilakukan. Kalau Allah tidak ada, maka kita bisa melakukan apa saja yang kita inginkan tanpa takut kepada Tuhan yang akan menghakimi kita. Saya percaya inilah sebabnya mengapa begitu banyak orang dalam masyarakat kita yang berpegang teguh pada evolusi, yaitu untuk memberi orang-orang alternatif untuk tidak percaya kepada Allah sang Pencipta. Allah ada dan pada akhirnya setiap orang tahu bahwa Allah ada. Bahkan fakta bahwa ada orang yang begitu sengitnya berusaha menolak keberadaan Allah pada dasarnya adalah merupakan bukti keberadaanNya.

Izinkan saya untuk memberikan argumentasi terakhir mengenai keberadaan Allah. Bagaimana saya bisa tahu bahwa Allah ada? Saya tahu Allah ada karena saya berbicara kepadaNya setiap hari. Saya tidak mendengar suaraNya berbicara kepada saya, namun saya merasakan kehadiranNya, saya merasakan pimpinanNya, saya mengenal kasihNya, saya merindukan anugerahNya. Banyak hal yang terjadi dalam hidup saya tidak dapat dijelaskan selain dari Tuhan. Dengan cara yang begitu ajaib Dia menyelamatkan saya dan mengubah hidup saya sehingga mau tidak mau saya harus mengakui dan mensyukuri keberadaanNya. Tidak ada satupun argumentasi ini yang secara sendirinya dapat meyakinkan seseorang yang terus menolak mengakui sesuatu yang sudah begitu jelas. Pada akhirnya, keberadaan Allah harus diterima melalui iman (Ibrani 11:6). Iman kepada Tuhan bukanlah iman yang buta, namun adalah melangkah dengan aman ke dalam ruangan yang terang di mana 90% orang sudah menanti.