GPdI “Allah Maha Baik” (AMB) Pekanbaru di gembalakan oleh :

Pdt. Otniel Assa, S.Th (Senior Pastor)

Alamat Gereja :

Jl. Bambu Kuning No 348 Pekanbaru -Riau


Allah panji kemenanganku

Posted: 14 November 2011 in Serba Serbi

Sekarang aku tahu, bahwa Tuhan memberi kemenangan kepada orang yang diurapiNya (Mazmur 20:7a)

Mungkin beberapa dari saudara mengalami masa-masa yang sulit saat ini, bahkan sepertinya terlalu sulit untuk dilalui. Dan Tuhan berkata di dalam hati saudara bahwa saudara harus tetap melangkah, berjalan melewati kesulitan itu. Ada satu hal yang pasti bahwa jika kita menyerahkan segala ketakutan dan kekhawatiran kita kepada Tuhan dan percaya hanya kepadaNya, serta mentaati apa yang Tuhan katakan untuk kita lakukan, bahwa kemenangan menjadi bagian kita! Sesulit apapun keadaan saudara, sehebat apapun pergumulan yang saudara hadapi, kemenangan tetap menjadi bagian saudara, jika saudara percaya kepadaNya. Amin.
Sebelum Daud tampil sebagai seorang pahlawan yang mengalahkan goliath, TUHAN terlebih dulu mempersiapkan Daud melalui hari-hari yang dia jalani sebagai seorang gembala. Ketika Daud hendak maju berperang melawan Goliat, dia berkata “TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.” selama Daud menjadi seorang gembala dia seringkali berhadapan dengan binatang buas, dan dia percaya bahwa selama itulah TUHAN yang selalu bekerja dalam hidupnya untuk melepaskan dia dari ancaman binatang-binatang buas.
TUHAN tahu bagaimana memperlengkapi umatNya sebelum menghadapi peperangan, TUHAN tahu bagaimana memperlengkapi kita sebelum kita berhadapan dengan pergumulan-pergumulan dan kesulitan-kesulitan dalam hidup ini.
Dan cara TUHAN memperlengkapi umatNya seringkali diluar pemikiran manusia, seperti halnya dengan Daud, dia tidak pernah mendapatkan pelajaran tentang berperang seperti prajurit-prajurit pada umumnya, dia hanya menggembalakan kambing domba milik ayahnya. Tetapi itulah cara Allah dalam memperlengkapi Daud untuk menjadi seorang pahlawan.
Saudara, kita mendengar banyak kabar di hari-hari ini dimana semuanya sepertinya tidak ada yang baik, kecelakaan, bencana, sakit-penyakit, kondisi perekonomian yang menurun, dan lain sebagainya. Seperti dikatakan didalam alkitab bahwa pada hari-hari yang terakhir akan terjadi masa yang sukar. Dan kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan kita. Sesungguhnya melalui kesulitan-kesulitan yang kita alami akhir-akhir ini, TUHAN sedang melatih kita, TUHAN sedang memperlengkapi kita untuk menghadapi setiap situasi dan kondisi yang tidak menentu, tujuannya adalah supaya kita tampil sebagai pemenang di dalam setiap pergumulan yang kita hadapi. Oleh sebab itu jangan kita menjadi tawar hati, melainkan senantiasa kita menguatkan hati kita untuk tetap percaya kepada TUHAN dan senantiasa berjalan dalam anugerahNya yang sempurna.
Jangan takut dan gentar menghadapi apapun juga, sebab TUHAN yang melatih kita dan menguatkan lengan-lengan kita, untuk kita mampu berperang dan meraih kemenangan

Kupas tuntas Saksi Yehuwa

Posted: 25 Maret 2012 in Uncategorized

Tidak Ada Perayaan Ulang Tahun Bagi Saksi Yehuwa

Benarkah ajaran atau perintah itu?

Pertama, perhatikan bahwa tidak ada satupun ayat di Alkitab yang menyatakan secara eksplisit bahwa orang Kristen dilarang merayakan ulang tahunnya. Jika memang orang Kristen dilarang, bukankah seharusnya Alkitab menyatakannya secara eksplisit?

Kedua, oleh karena itu, ajaran Menara Pengawal yang menyatakan bahwa Alkitab melarang orang Kristen merayakan ulang tahunnya merupakan tafsiran sepihak, bukan?

Ketiga, perhatikan beberapa argumentasi yang dibuat Menara Pengawal di seputar 2 kejadian yang tidak menyenangkan saat adanya ulang tahun yaitu Firaun dan Herodes; 2 orang meninggal yaitu juru roti dan Yohanes Pembaptis. Dengan demikian maka menurut Menara Pengawal, Alkitab tidak menyetujui perayaan ulang tahun karena hal-hal yang jahat terjadi saat perayaan ulang tahun.

Jika demikian tafsiran Menara Pengawal, saya ingin bertanya, ‘Berdasarkan standard Alkitab, apakah sumber dari suatu kejahatan? Manusianya — Firaun atau Herodes — atau ulang tahunnya itu sendiri? Untuk lebih mudahnya, saya beri illustrasi, ketika seseorang membunuh, siapakah yang jahat di sini; individu yang membunuh atau pisaunya yang dipakai membunuh?’ Jelas, orangnya, bukan? Pisau hanyalah sebuah alat untuk memotong; dapat digunakan untuk kebaikan seperti memotong daging atau sayuran. Dan dapat pula digunakan untuk kejahatan yaitu membunuh. Semuanya kembali kepada individu yang menggunakan pisau itu.

Jadi, bukan karena adanya pesta ulang tahun seseorang berbuat jahat. Perayaan ulang tahun hanyalah suatu acara untuk memperingati kelahiran seseorang. Tanpa perayaan itu pun Firaun dan Herodes memang banyak melakukan hal-hal yang buruk. Kejadian pada pembunuhan secara kebetulan terjadi saat adanya pesta ulang tahun. Lalu mengapa ulang tahunnya yang dipermasalahkan?

Lalu, jika demikian mengapa Menara Pengawal mentafsirkan melampaui apa yang tertulis?

Keempat, Menara Pengawal berargumentasi bahwa ‘umat Yehuwa tidak merayakan tanggal kelahiran; mereka merayakan perayaan-perayaan lain tetapi bukan ulang tahun’ karena itu Alkitab tidak merekomendasikan ulang tahun. Memang secara eksplisit Alkitab tidak menyatakan demikian. Tetapi, nabi-nabi Tuhan itu juga tidak menulisnya untuk tidak merayakannya, bukan?

Kelima, jika saya boleh mentafsirkan Alkitab. Alkitab mencatat usia para tokoh Alkitab sangat banyak, bukan? Menara Pengawal pun menulis ‘Hamba-hamba Allah pada zaman dahulu mencatat kapan orang-orang dilahirkan, yang memungkinkan mereka untuk menghitung usia‘.  Bahkan Alkitab menulis Yesus berusia 12 tahun saat pergi ke Yerusalem. Pertanyaan saya adalah mengingat penulis Alkitab mencatat usia para tokohnya apakah tidak mungkin mereka juga memperingati ulang tahunnya juga, hanya tidak dicatat? Jika tidak memperingatinya, mengapa usia mereka dicatat?

Saya mentafsirkannya, karena usia mereka dicatat maka tentunya mereka memperingati ulang tahunnya.

Keenam, lebih utama lagi rasul Paulus menulis di Roma 14:5-6,12 mengenai ‘suatu hari‘:

Ada orang yang menilai suatu hari lebih penting daripada hari yang lain; orang lain menilai semua hari sama; hendaklah setiap orang yakin sepenuhnya dalam pikirannya sendiri. Ia yang berpegang pada suatu hari, melakukannya untuk menghormati Yehuwa. Juga, ia yang makan, melakukannya untuk menghormati Yehuwa, sebab ia mengucapkan syukur kepada Allah; dan ia yang tidak makan, melakukannya untuk menghormati Yehuwa, namun mengucapkan syukur kepada Allah….Oleh karena itu, kita masing-masing akan memberikan pertanggung jawaban kepada Allah. (NW)

Nah, di ayat ini rasul Paulus menyatakan mengenai ‘suatu hari‘, tentunya termasuk hari ulang tahun, bukan?  Keputusan mengenai ‘suatu hari’ yang lebih penting dibandingkan dengan hari lainnya menurut Paulus diserahkan kepada hati nurani masing-masing individu asalkan dilakukan untuk menghormati nama Yehuwa. Karena keputusan ini dilakukan berdasarkan hati nurani secara pribadi maka Paulus mengatakan bahwa masing-masing dari kita akan mempertanggung-jawabkannya kepada Allah. Oleh karena itu, tidak dapat orang lain menghukum ataupun melarang seseorang menganggap hari ulang tahunnya penting karena ia sebagai individu akan mempertanggung-jawabkannya kepada Allah, bukan?

”Berjaga-jagalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan berbaju domba, tetapi di dalamnya, mereka adalah serigala-serigala yang rakus”. (Mat. 7:15, NW)

Satu Kesatuan yang ESA

Posted: 25 Maret 2012 in Ke-Allah-an

Menjadi satu keprihatinan bagi saya pribadi melihat anak2 Tuhan menjadi binggung tentang apa itu TRINITAS dalam Alkitab. Pertanyaannya adalah, apakah dalam Alkitab ada disebutkan tentang istilah Trinitas? Tentu saja jawabannya tidak ada. Akan tetapi jika anda seorang pecinta Alkitab dan suka membaca dan meneliti Alkitab, maka anda akan temukan disana bahwa dengan tidak munculnya istilah Trinitas dalam Alkitab bukan berarti Trinitas itu tidak ada. Melalui catatan ini, mari kita belajar singkat tentang TRINITAS YANG ESA.Banyak ajaran-ajaran yang menggugat, mempertanyakan bahkan menolak istilah Trinitas/Tritunggal tetapi pada intinya ajaran-ajaran itu menolak untuk menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan Yang Mahakuasa. Kita akan melihat beberapa aspek dasar dari apa yang dikatakan Alkitab mengenai Bapa, Anak (Yesus Kristus) dan Roh Kudus. Allah yang Esa dinyatakan sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus, kesemuanya adalah Allah tetapi setiap Oknum/Pribadi dibedakan tersendiri.

Istilah ‘Trinitas’ ini akhirnya dirumuskan pada Konsili Nicea tahun 325 M. Istilah Trinitas dicetuskan oleh bapa-bapa gereja mula-mula untuk melawan doktrin-doktin bidat Gnostik yang mengajarkan bahwa Yesus tidak setara dengan Allah. Penting untuk disadari bahwa ungkapan seperti “Trinitas dalam keesaan”, pertama-tama bukanlah ungkapan bersifat filsafat ataupun metafisis. Itu adalah ungkapan yang didasarkan pada penyataan historis. Orang terpaksa merumuskan doktrin tentang Trinitas, sebab kenyataan-kenyataan ini sejarah ini tak dapat dijelaskan dengan cara lain manapun juga.

Perjanjian Baru adalah satu-satunya sumber yang sahih bagi setiap orang untuk memahami dengan baik siapakah Yesus orang Nazaret.

Dengarlah hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!

(Ulangan 6: 4) Allah bersifat jamak, tetapi Ia juga bersifat tunggal (satu). Kata Ibrani untuk ‘satu’ yang digunakan di sini dan berlaku bagi Allah adalah ‘echad’. Kata ini menunjukan kesatuan dengan elemen-elemen komponen. Dalam Kejadian 2: 24, kata yang sama, ‘echad’, digunakan lagi: “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu [echad] daging.” Kata ‘echad’ yang digunakan disini bukanlah kata untuk kesatuan yang mutlak tidak dapat dibagi, yaitu ‘yachid’. Kata Ibrani yang digunakan dalam ayat ini, ‘echad’, berlaku juga bagi pernikahan. Ini menggambarkan suatu kesatuan yang terdiri dari dua pribadi yang berbeda dipersatukan. Namun, dalam pemwahyuan Allah yang alkitabiah, bukan dua, melainkan tiga Pribadi yang menghasilkan kesatuan (Esa), yaitu kesatuan di mana juga ada kemajemukan.

Jadi, orang Kristen menyembah Tuhan yang Esa (monoteisme) bukan banyak tuhan (politeisme) dan pernikahan Kristen adalah pernikahan monogami bukan poligami. Allah yang Esa adalah Bapa, Yesus Kristus dan Roh Kudus. Mereka adalah satu [echad] tetiap setiap Oknumnya adalah berbeda. Saya berprinsip bahwa istilah Trinitas memiliki makna yang identik dengan kata Ibrani ‘Echad’ untuk mewakili kesatuan yang memiliki sifat kemajemukan dalam diri Allah.Kita harus ingat bahwa Allah jauh di atas dan berada di luar jangkauan pikiran manusia. Kalau kita dapat sepenuhnya mengerti Allah, itu berarti Ia bukanlah Allah dan tentu saja Allah seperti itu bukanlah Allah yang dinyatakan oleh Alkitab kepada kita. Apa yang kita tahu tentang Allah hanyalah apa yang diberitahukan-Nya kepada kita mengenai diri-Nya.

Alkitab (PL dan PB) dengan jelas menyatakan bahwa Allah adalah Esa. Bapa adalah Allah, Yesus Kristus adalah Allah, Roh Kudus adalah Allah bukan berarti kita menyembah tiga Allah tetapi yang benar adalah satu Allah yang berpusat pada tiga Oknum/Pribadi.

I. BAPA

Dalam Perjanjian Lama (PL), Yahweh dipanggil Bapa oleh bangsa Israel sebagai Allah mereka. Yesaya 63: 16, kita membaca, “Bukankah Engkau Bapa kami? Sungguh Abraham tidak tahu apa-apa tentang kami, dan Israel tidak mengenal kami. Ya TUHAN [Yahweh], Engkau sendiri Bapa kami; nama-Mu ialah “Penebus kami” sejak dahulu kala.” Kita telah memahami bahwa Yahweh dipanggil Bapa oleh para nabi dan bangsa Israel pada zaman PL. Dalam Mazmur 81: 11, Allah berfirman: “Akulah TUHAN [Yahweh], Allahmu yang menuntun engkau keluar dari tanah Mesir:…”, Yahweh adalah Allah yang menuntun bangsa Israel keluar dari tanah Mesir dan Dia dipanggil “Bapa”. Dalam Yesaya 64: 8, kita akhirnya mengetahui dengan pasti bahwa Bapa adalah Sang Pencipta. “Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu.

Bapa adalah Allah, dan Dia memiliki hak untuk menghapus dosa. Dalam Yesaya 44: 22 yang berjudul TUHAN [Yahweh] Penebus Israel, Allah berfirman, “Aku telah menghapus segala dosa pemberontakanmu seperti kabut diterbangkan angin dan segala dosamu seperti awan yang tertiup.”

Sebutan “Bapa” memperlihatkan macam hubungan yang harus ada antara Allah dan manusia. Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan garis keturunan secara darah daging. Jadi sebutan “Bapa” tidak ada kaitannya sama sekali dengan kawin mengawinkan. Orang Kristen percaya bahwa Allah yang Esa itu Trinitas. Apabila suatu penamaan diperlukan untuk membedakan Yesus dan Roh Kudus dan Oknum satu lagi dalam Trinitas, orang Kristen memakai sebutan “Bapa”, yang sudah dipakai oleh Yesus sendiri sebagai sebutan khusus bagi Oknum pertama

II. YESUS KRISTUS

Sebelum datang ke dalam dunia Yesus Kristus adalah Firman Allah yang hidup (Yoh.1:1). Dalam Yesaya 55: 11, Allah berkata, “Demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan ia akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.” Yesus Kristus adalah sang Firman, Dialah yang melaksanakan kehendak Bapa. Pernyataan dalam Yesaya 55: 11 sangat lah identik dengan pengakuan dari sang Firman itu sendiri, dalam Yohanes 8: 42 kita membaca, “Kata Yesus [sang Firman] kepada mereka [orang Yahudi]: ‘Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku…’” Yesus Kristus adalah Sang Firman yang bertugas melaksanakan kehendak Bapa dan Dia juga memiliki otoritas seperti halnya Bapa. Dalam Kejadian pasal 1, kita mengetahui bahwa Allah menciptakan langit dan bumi melalui firman-Nya. Dalam Yohanes 1: 2 dinyatakan bahwa “segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.”

“Firman itu telah menjadi manusia dan diam diantara kita,…”(Yoh.1: 14), Sang Firman telah datang ke dalam dunia menjadi manusia, hal ini sesungguhnya adalah penggenapan nubuat yang telah di nyatakan Allah melalui nabi Yesaya. Dalam Yesaya 9: 5, kita membaca “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.” Yesus Kristus adalah Oknum kedua dari Trinitas dan Dialah yang melaksanakan kehendak Bapa. Dia datang ke dalam dunia untuk melaksanakan misi ilahi yang adalah untuk menebus dosa-dosa seluruh umat manusia. Melalui Yesus Kristus, Allah dengan bebas dapat mengampuni dosa-dosa setiap orang yang percaya pada Yesus.

Yesus Kristus digambarkan bukan hanya tanpa dosa [kudus/suci] (Lukas 1: 35), tapi Dia juga memiliki kuasa untuk mengampuni dosa manusia seperti halnya Allah (Lukas 5: 20). Arti dosa pertama-tama adalah pelanggaran terhadap Allah, dan karena itu jelas bahwa hanya pihak yang dilanggar lah yang dapat mengampuni pelanggar. Justru mengampuni dosa adalah mutlak hak Allah sendiri saja jadi tidaklah mengherankan bahwa waktu Yesus menyembukan seseorang yang lumpuh dengan mengatakan, “Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni” (Markus 2: 5), orang-orang yang mendengarnya bertanya, “Siapakah orang ini?”

Dalam Yohanes 10: 33, kita dapat mengerti bahwa alasan mengapa orang-orang Yahudi ingin merajam Yesus adalah karena Dia menyatakan bahwa diri-Nya adalah sama dengan Allah. Orang-orang Yahudi itu berkata kepada Yesus, “..Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah.” Reaksi orang-orang Yahudi ini timbul karena Yesus berkata kepada mereka, “Aku dan Bapa adalah satu.”

Yesus juga sering mengidentikan diri-Nya dengan sebutan ‘Anak Allah’. Sekali lagi yang perlu kita camkan adalah sebutan “Anak” bukan berarti ‘beranak’ dan juga bukan berarti Dia adalah allah kelas dua yang tidak setara dengan Allah Bapa. Sudah cukup dikatakan untuk membuatnya jelas, bahwa walaupun Yesus adalah Allah, namun Dia bukanlah Oknum yang sama dengan Allah Bapa. Ada perbedaan kepribadian dalam keilahian itu. Tapi bagaimanakah perbedaan ini diungkapkan dalam bahasa dan pikiran manusia? Allah selalu menyatakan diri-Nya kepada manusia dalam cara-cara yang tidak asing bagi kita dan dapat kita mengerti. Jadi, hubungan pribadi dalam keilahian itu harus diungkapkan dengan memakai pengertian hubungan (emosional) secara manusia yang paling dekat.

Ada hubungan timbal balik dan hubungan kasih antara Allah dan Yesus yang paling dapat dimengerti oleh manusia sebagai hubungan Bapa-Anak. Dapat dikatakan bahwa Yesus senantiasa dikirim Bapa, untuk melaksanakan kehendak Bapa, dikasihi Bapa, dan takluk kepada Bapa. Kepribadian hampir tak dapat dikatakan ada dalam suatu kevakuman. Kepribadian selalu mencakup hubungan dengan kepribadian-kepribadian lain. Kalau dikatakan bahwa Allah adalah Oknum, atau bahwa Ia adalah kasih, tentulah ini berarti bahwa ada hubungan timbal balik “di dalam Allah”.

III. ROH KUDUS

Roh Kudus adalah Allah tetapi Ia adalah Oknum yang berbeda dari Bapa dan Firman (Yesus). Roh Kudus bukanlah sekedar kuasa yang abstrak atau samar-samar dari dalam diri Allah, Ia tidak bersifat pasif tetapi Ia adalah perantara yang melakukan kehendak Bapa dan Firman di alam semesta. Dalam Yesaya 63: 10, dinyatakan bahwa Roh Kudus dapat disakiti oleh dosa-dosa manusia. “Tetapi mereka memberontak dan mendukakan Roh Kudus-Nya,…” Hal ini membuktikan bahwa Ia adalah Allah. Bukankah kita semua tahu bahwa dosa adalah sikap pemberontakan terhadap Allah? Dalam Perjanjian Lama, Roh Kudus disebut juga sebagai Roh Allah, Roh TUHAN atau Roh. Dalam Yesaya 40: 13, Roh Kudus dinyatakan sebagai Yang mahatahu: “Siapa yang dapat mengatur Roh TUHAN atau memberi petunjuk kepada-Nya sebagai penasihat?” Bahkan dalam Kejadian 1: 2, dinyatakan bahwa Roh Kudus adalah Sang Pencipta, bersama-sama dengan Bapa dan Firman: “Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang diatas permukaan air.” Dalam Alkitab terjemahan King James Version (KJV), kata kerja untuk “melayang-layang” adalah “moved”. Kata kerja “moved” dalam kamus OXFORD memiliki arti “bertindak” (to take action) atau “melakukan sesuatu” (to do something). Roh Kudus ikut berperan serta dalam penciptaan langit dan bumi. Dialah Yang Mahakuasa.

Dalam PB, Yesus menyatakan bahwa Allah itu Roh (Yoh. 4: 24). Dalam Mrk. 3: 29 dan Mat. 12: 31-32, Sang Firman (Yesus) menyatakan bahwa hujat terhadap Roh Kudus adalah dosa yang tidak dapat diampuni. Di sini kita dapat melihat dengan jelas bahwa Yesus dan Roh Kudus adalah Oknum yang berbeda. Dalam Perjanjian Baru, Roh Kudus biasanya juga disebut sebagai Roh Kebenaran atau Roh Kristus.

Inilah beberapa pekerjaan yang dilakukan oleh Roh Kudus: Dia berbicara (Kis.8; 29; 13: 2; 1 Tim 4:1); Dia mengajar (Yoh. 14: 26); Dia tinggal bersama orang-orang percaya (Yoh. 14: 16-17); Dia akan memenuhi orang-orang percaya (Kis. 2: 4; Ef. 5:8); Dia membimbing orang-orang percaya (Gal. 5: 18); Dia menyelidiki segala sesuatu (1 Kor. 2: 10) dan Dia diutus Bapa dalam nama Yesus Kristus (Yoh. 14: 26).Dalam Roma 8: 26-27, Roh Kudus membantu orang-orang percaya dalam doa kepada Allah.

Dalam 1 Korintus 2: 10-11, rasul Paulus berkata “Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah. Siapa gerangan diantara manusia yang tahu,apa yang terdapat di dalam diri manusia selain roh manusia sendiri yang ada di dalam dia? Demikian pula tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat dalam diri Allah selain Roh Allah.”

PENUTUP

Bapa, Anak (Yesus) dan Roh Kudus, mereka adalah Allah yang Esa. Dalam Kejadian pasal 1 kita telah mengatahui bahwa langit dan bumi diciptakan oleh Allah Trinitas. Ketika seseorang menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya secara pribadi maka Bapa, Yesus dan Roh Kudus akan diam di dalam hati nya dan sesungguhnya orang itu menjadi ciptaan yang baru. Bapa akan berjalan di depannya sebagai perisai yang teguh, Yesus (Sang Firman) akan menyucikan dirinya dari segala dosa dan Roh Kudus akan membimbingnya untuk tetap hidup dalam kebenaran dan kasih sampai selama-lamanya.

SEKIAN.

Mengintip Bach, Beethoven, Mozart…

Posted: 23 November 2011 in Kesaksian

Dengan rasa kagum sejarah mengabadikan nama komponis-komponis agung seperti Bach, Handel, Haydn, Mozart, Beethoven, Schubert dan lain-lain. Mereka adalah jenius yang menghasilkan musik yang memberi rasa indah kepada hati umat untuk berabad-abad lamanya. Mungkin kita menduga bahwa sebagai jenius mereka dengan mudah menghasilkan karya-karya besar. Dugaan itu keliru. Karya mereka bukan lahir begitu saja, melainkan melalui banyak pergumulan belajar dan berdoa. Marilah kita mengintip pergumulan mereka.

JOHANN SABASTIAN BACH (1685-1750) sudah menjadi yatim piatu pada usia sembilan tahun, justru pada saat ia belajar mengembangkan minatnya pada musik. Tetapi Bach berkemauan keras. Ia membaca buku hanya dengan sinar bulan yang masuk ke jendela kamarnya. Ia tidak segan berjalan kaki sejauh puluhan bahkan ratusan kilometer selama berhari-hari untuk bisa mendegarkan konser organ. Sebelum mengarah sebuah lagu, lama Bach berdiam diri … lalu di kertas kosong yang akan digunakannya ia menulis : J.J. (Jesu Juva, artinya Yesus, tolonglah saya) Kemudian kalau sudah selesai pada bagian akhir kertas itu Bach menulis : S.D.G. (Soli Deo Gloria, artinya Kemuliaan bagi Allah). Bach mengagumi Daud yang memberikan tempat yang penting pada nyanyian dan musik dalam ibadah. Dalam Alkitabnya, di bawah 1 Tawarikh 25, Bach mencatat :”Musik adalah buah Roh Kudus.” Bach juga sangat terkesan pada 2 Tawarikh 5:13-14 “Lalu para peniup nafiri dan para penyanyi itu serentak memperdengarkan paduan suaranya … Pada ketika itu rumah Tuhan dipenuhi awan … kemuliaan Tuhan memenuhi rumah Allah.”

GEORGE FREDERIC HANDEL (1685-1759) mempunyai cara lain dalam pergumulan mencari ilham. Untuk mengarang sebuah oratorium Handel mengurung diri selama berhari-hari di kamarnya. Ia tidak mau bertemu dengan siapapun. Pada suatu hari ia pernah keluar dari kamarnya memegang kertas-kertas berisi karyanya sambil menangis dan berteriak, “Saya telah melihat sorga, saya telah melihat Tuhan!”

FRANZ JOSEPH HAYDN (1732-1809) lahir dalam keluarga miskin di desa di pedalaman Austria. Ia mencari nafkah dengan jalan menjadi pemain biola di depan restoran. Baru kemudian hari ia bekerja sebagai musikus di rumah-rumah bangsawan. Haydn dijuluki “Bapak segala simfoni”, sebab ia mengarang begitu banyak simfoni. Sebelum ia mengarang suatu simfoni, ia lebih dulu bertelut di depan pianonya dan meneduhkan diri. Ia pernah menjelaskan, “Dalam keteduhan seperti itulah saya meminta bakat yang diperlukan untuk bisa memuliakan Tuhan dengan pantas.”

WOLFGANG AMADEUS MOZART (1756-1791) belajar piano pada usia empat tahun, dan pada usia enam tahun ia sudah bermain konser. Segala sesuatu berjalan begitu cepat dalam hidup Mozart. Ia melejit ke atas sebagai pemusik yang paling populer di Austria. Banyak orang jadi penggemarnya, tetapi banyak juga yang membenci dan iri kepadanya. Pernah Mozart menulis kepada ayahnya, “Papa jangan khawatir, saya dipelihara Tuhan. Saya sering takut Tuhan marah …, tetapi saya merasakan kemurahan hati dan kelemah-lembutan Tuhan.” Mungkin karena merasakan kemurahan Tuhan, maka Mozart bermurah hati kepada banyak orang. Ketika rekannya sakit, Mozart menggantikan kawannya untuk menyelesaikan karyanya, lalu seluruh pembayaran untuk karya itu diserahkan kepada kawannya. Mozart meninggal pada usia 35 tahun dalam keadaan yang mengenaskan. Untuk membeli peti jenazah pun tidak tersedia uang.

LUDWIG VON BEETHOVEN (1770-1827) terserang penyakit telinga menjelang usia 30 tahun, lalu ia menjadi tuli secara total. Bayangkan bagaimana terpukulnya seorang komponis lagu kalau ia menjadi tuli. Dalam kesedihannya ia menulis, “Aku merasa sepi, sangat sepi. Tetapi aku merasa Tuhan dekat.” Beethoven banyak membaca buku renungan. Buku kegemarannya adalah Imitatio Christi (artinya: Meniru Kristus) karangan Thomas a Kempis. Walaupun Beethoven tuli, namun ia tetap produktif sepanjang hidupnya dengan menghasilkan begitu banyak simfoni, oratorio, opera dan sonata piano yang menakjubkan. Salah satu warisannya adalah nyanyian “Kami Puji Dengan Riang” di Kidung Jemaat, no. 3.

FRANZ PETER SCHUBERT (1797-1828) lahir dalam keluarga guru sekolah dasar yang miskin. Untuk mengarang lagu ia tidak mampu membeli kertas, sehingga ia menulis di kertas bekas. Schubert meninggal dalam usia 32 tahun karena wabah typhus yang melanda perkampungan kumuh di kota Wina tempat ia tinggal. Dalam catatannya ia menulis : “Ketika saya menciptakan musik, saya beribadah kepada Tuhan, dan saya menciptakan musik supaya orang beribadah kepada Tuhan.” Tulisan di atas bukan bermaksud untuk mengatakan bahwa komponis-komponis besar itu orang-orang sempurna. Mereka manusia biasa dengan sifat buruknya masing-masing. Misalnya, Handel dikenal sebagai orang yang suka mengumpat dan memaki. Mozart kurang dewasa dalam kepribadiannya dan suka memboroskan uang untuk berfoya-foya. Beethoven gampang naik darah, sehingga ia pernah melemparkan makanan di piring ke wajah seorang pramusaji restoran hanya karena makanan itu tidak sesuai dengan yang dia pesan. Yang mau dicatat di sini adalah bahwa orang-orang jenius itu dengan rendah hati mencari Tuhan sebagai sumber ilham. Mereka merasakan kedekatan dan keakraban dengan Tuhan sebagai saat-saat yang mengilhami karya musik mereka. Mereka mengaku bahwa bakat mereka adalah pemberian Tuhan dan adalah pantulan kemuliaan Tuhan, karena itu untuk kemuliaan Tuhan jugalah mereka mempersembahkan karya mereka yang agung itu. Kata dan nada yang lahir dari jari mereka adalah sentuhan tangan Tuhan. Ilham yang mereka peroleh adalah percikan Roh Tuhan.

Sumber: Wiempy

 

Kesaksian Didik Nini Thowok

Posted: 23 November 2011 in Kesaksian

Sosok Didik Nini Thowok adalah sosok yang lekat dengan tarian humoris. Membawakan karakter perempuan dan gerak-gerak tarian yang ” diplesetkan”, Didik selalu berhasil membuat penontonnya tertawa terpingkal-pingkal. Setelah puluhan tahun belajar seni tari dari berbagai daerah, antara lain Jawa, Sunda, Bali, dan Jepang, kini Didik berhasil memadukan semua gaya itu menjadi tarian dengan gayanya sendiri yang khas dan humoris. Dengan kemampuannya itu Didik meraih sukses sebagai penari yang melintas batas budaya dan negara.

Penampilannya yang selalu mengundang kegembiraan itu tidak hanya dapat dinikmati di atas panggung tapi juga dalam hidup kesehariannya. Tawa renyah yang selalu dihadirkannya seolah membuat orang tidak percaya bahwa iapun pernah menderita. Padahal sebenarnya kehidupan lelaki kelahiran Temanggung, 13 November 1954 itu tidak tergolong berkelimpahan.

Terlahir sebagai Kwee Tjoen Lian yang kemudian diganti menjadi Kwee Yoe An karena sakit-sakitan, ia sulung dari lima bersaudara pasangan Kwee Yoe Tiang dan Suminah. Keluarga besarnya hidup pas-pasan. Ayahnya pedagang kulit sapi dan kambing yang bangkrut dan kemudian menjadi supir truk.

Ibunya membuka warung kelontong kecil-kecilan. Begitu seret rejeki keluarga ini sampai-sampai Didik kecil harus ikut bekerja membantu orang tuanya.

Meski dari segi materi tumbuh dalam keluarga yang berkekurangan tetapi Didik kecil selalu berkelimpahan dengan kasih sayang. Dalam kesempitan materi, ia menikmati masa kecilnya dengan bekerja, belajar, dan menonton berbagai kesenian, ketoprak, ludruk, dan wayang yang akhirnya mengasah rasa seninya.

Di masa itu, Didik bukan hanya belajar bekerja keras tapi juga belajar bersabar. Sejak kecil ia memang suka membawakan tarian yang lemah gemulai seperti perempuan, karena itu ia diejek oleh orang-orang sekitarnya, “Kamu ini anak laki-laki apaan sih? Kok menarinya seperti perempuan?”.

Setiap kali diejek, ia menjadi sangat sedih. Ia hanya bisa diam, tidak membalas dan tidak mengadu pada orang tuanya. Ia hanya berdoa sambil menangis, “Tuhan, aku marah tapi aku tidak akan membalasnya. Aku yakin Kamulah yang akan membalaskannya untukku.” Setelah itu, iapun menjadi lega dan malah lebih semangat berlatih menari. Baru bertahun-tahun kemudian doanya itu terjawab.

Dari pengalaman hidup, perlahan-lahan iapun memahami bahwa semua hal yang membuatnya sedih, kemiskinan, dan penghinaan hanyalah cara Tuhan mengajaknya bercanda. Ia menjadi yakin Tuhan tidak akan membuatnya sengsara sehingga ia lebih tenang dan pasrah menghadapi berbagai persoalan. Pemahamannya ini merupakan buah pengasuhan orang tua dan kakek neneknya yang cukup disiplin. Pendidikan dan kasih sayang mereka menjadikannya pribadi yang setia dalam doa, tegar, suka bekerja keras, dan berperasaan halus.

Semasa kuliah di ASTI ( Akademi Seni Tari Indonesia ), ketika Didik mulai mendapat honor dari pertunjukan dan melatih menari, ia ingin sekali membeli sepeda motor supaya tidak kelelahan mengayuh sepedanya kesana kemari. Sejak itu ia betul-betul berhemat. Setelah uangnya terkumpul Rp 200.000, ia sangat gembira, motor yang diidamkan terbayang di depan mata. Tiba-tiba ia teringat ibunya. Bergegas ia pulang ke Temanggung dan mendapati perut ibunya membesar karena kanker. Dengan uang Rp 200.000 itu, ia segera membawa ibunya ke Yogyakarta untuk dioperasi. Operasi itu berhasil baik dan ibunyapun sehat kembali. Didik sangat bahagia, tak secuilpun rasa kecewa menghinggapinya karena belum bisa mendapatkan sepeda motor. Bagi dia kesehatan dan kebahagiaan ibunya diatas segala harta yang bisa ia punya. Ia memahami, saat itu Tuhan memang hanya mencandainya karena selang beberapa tahun, Didik bukan hanya bisa membeli sepeda motor tapi bahkan mobil dan rumah.

Sedari kecil dengan berbagai cara Didik belajar bersyukur dan berdoa. Ia suka ikut kakeknya yang beragama Konghucu berdoa di kelenteng dan neneknya yang Kristen ke gereja. Kini ia adalah pengikut Kristen Protestan yang taat. Ia mengakui bahwa ia adalah laki-laki yang cengeng (mudah menangis) setiap kali berdoa. Sebenarnya ia ingin sekali rajin ke gereja tapi kesibukan yang sangat padat membuatnya sering tidak punya kesempatan untuk melaksanakannya setiap minggu. Untuk itu setiap ada kesempatan ia mengundang pendeta untuk mengadakan persekutuan doa di rumahnya. Dalam persekutuan doa itulah ia selalu terharu dan menangis saat memberi kesaksian akan kebesaran Tuhan yang telah ia alami.

Salah satu kesaksiannya adalah tentang rahasia kesuksesannya. Dengan mantap ia mengatakan ” Ora et Labora “, dalam segala kesibukan saya selalu berdoa, dimanapun. Setiap kali akan manggung, saya selalu menyediakan waktu untuk berkonsentrasi, kemudian berdoa Syahadat Para Rasul, Bapa Kami dan Salam Maria dari buku doa pemberian Suster Leonie, kakak angkat saya. Tak lupa saya juga selalu mohon restu pada semua guru-guru tari saya yang telah almarhum.

Selama bertahun-tahun Didik sungguh-sungguh merasakan bahwa doa adalah kekuatan di balik semua kesuksesannya. Keyakinan ini membuatnya tidak berani sombong.” Saya mengakui, ketika menari seolah-olah ada kekuatan di luar diri yang ikut menggerakkan dan menghiasi tubuh saya. Saya yakin, kekuatan saya sendiri tidak akan mampu menyelenggarakannya tetapi kekuatan itulah yang menjadikan tarian yang saya bawakan terlihat begitu indah dan memberi kegembiraan bagi banyak orang”.

Menurut pengakuannya sudah ada banyak orang yang mengamini hal itu. Mereka bilang, ketika menonton Didik menari, mereka melihat pancaran aura yang sama sekali lain dari kesehariannya. Misalnya, dalam suatu pertunjukan seorang ibu melihat ada burung merpati mengelilingi Didik menari. Setelah pertunjukan rampung, ia langsung menelepon Didik menyatakan kekagumannya, ” Proficiat, Mas! Tarianmu benar-benar indah, apalagi ada burung merpatinya “. Kaget juga Didik menerima komentar itu karena sebenarnya ia sama sekali tidak menggunakan burung merpati dalam tariannya itu.

Dalam suatu perjalanan ke luar negeri, tas Didik yang berisi passport, uang, kamera, dan dokumen berharga lainnya ketinggalan di kereta api.

Menurut staf KBRI yang dilaporinya tidak ada harapan tas akan kembali. Tentu saja Didik shock, tidak bisa makan dan tidur, tapi selang 2 hari setelah kejadian ia ditelepon oleh staf KBRI bahwa tasnya telah ditemukan. Ajaib juga, setelah diperiksa semua isinya utuh, ini pasti karena buku doa kumal pemberian Suster Leonie ada di dalamnya, Didik hanya bisa tertawa bahagia. Lagi-lagi Tuhan mengajaknya bercanda.

Dalam hidup Didik, ada begitu banyak mukjizat yang telah dibuat Tuhan. Dulu Didik masih berdebar-debar dan menangis sedih setiap kali menghadapi persoalan, tapi kini ia benar-benar tenang dan pasrah. Bagi Didik, Tuhan sering kali memberinya hadiah-hadiah yang tak terduga dan membuatnya bahagia. Pernah pada suatu tur kebudayaan di Eropa, karena perubahan jadwal yang tak terduga, ia tiba-tiba punya kesempatan berziarah ke Vatikan dan berdoa di Gereja St. Petrus dengan khusyuk, ia juga sempat ke Gunung Monserrat untuk mengunjungi Patung Bunda Maria Hitam.

Itulah Didik Nini Thowok yang kesuksesannya tak bisa dilepaskan dari ketekunannya berdoa. Semakin ia berdoa, semakin ia meyakini bahwa Tuhanlah satu-satunya kekuatan dalam hidupnya. Dengan demikian, ia tetap tidak sombong. Didik tetap hidup dengan sederhana di rumahnya yang sederhana di Jl. Jatimulyo, Yogyakarta, di pinggir sungai yang ditinggalinya sejak tahun 1980-an.

Kini, setelah semua cita-cita masa kecilnya terwujud, ia hanya ingin bersyukur dan bersyukur. Untuk itu ia berbagi kebahagiaan dengan mendirikan yayasan yang menyantuni biaya pendidikan 60 anak. Dan di usianya yang ke-50, kebahagiaannya semakin lengkap ketika ia boleh mengasuh seorang bayi laki-laki yang ia beri nama Aditya Awaras Hadiprayitno, setelah menantikan selama bertahun-tahun.

Menjadi saksi kebesaran Tuhan atas dirinya, ia hanya bisa berkata, “Saya percaya, kesuksesan dan kebahagiaan saya adalah jawaban Tuhan atas semua doa-doa saya. Bahkan sekarang tidak ada lagi yang bisa menghina saya karena menarikan tarian perempuan. Ya, Tuhan memang selalu menguji saya sampai batas waktu terakhir, sampai-sampai, setiap kali saya berdoa, saya tidak tahu lagi apakah saya harus menangis atau tertawa. Memang, Tuhan itu suka bercanda.”

“Love is life and life is love,you must first love yourself before you can give love freely and anyone can love you.” by patti quinn “The Irish Poet”

“There is not a single inch in the whole domain of our human existence over which Christ, who is sovereign over all, does not cry: Mine!”
Itulah kalimat terkenal dari Abraham Kuyper yang masih terus menggema sampai saat ini. Dilahirkan 29 Oktober 1837 di Maassluis, Belanda, dengan ibu seorang guru dan ayah seorang gembala di Dutch Reformed Church.

Sebagai seorang mahasiswa muda di akhir 1850-an, Kuyper diajar berdasarkan pekembangan teologi modern Jerman dan Belanda yang sangat liberal. Kehidupan kampusnya dipengaruhi banyak oleh professor teologinya, J.H. Scholten (1811-1885) dan professor literaturnya, M. de Vries (1820-1892).

Salah satu pengaruh yang didapatnya adalah ketika Kuyper – atas undangan de Vries – berhasil menggondol medali emas dan penghargaan lainnya atas sebuah perlombaan penulisan essay yang bertema tentang perbandingan pemikiran Calvin dan J. A Lasco atas gereja. Dia menyelesaikan penulisan ini selama tujuh bulan, dan akhirnya keletihan dan tidak dapat mengikuti studinya. Dengan terpaksa, Kuyper mengajukan istirahat selama enam bulan. Dia akhirnya menyelesaikan studi dan paper tersebut dijadikannya disertasi doktoralnya (Th.D.) di Universitas Leyden, Belanda. Sebelumnya, Kuyper menyelesaikan tingkat sarjananya dalam bidang literature, filsafat dan bahasa klasik dengan summa cum laude.

Gembala yang Diubahkan
Kuyper menjadi gembala pada kongregasi pertamanya di sebuah desa, Beesd. Di sini Tuhan mengubahnya menjadi seorang beriman ortodoks melalui “sekumpulan kecil Calvinis keras kepala yang sudah ketinggalan zaman” yang sangat bertentangan dengan teologi liberalnya. Kumpulan orang-orang sederhana ini begitu kuat imannya dan pemahaman atas doktrin tradisional Calvin. Dalam setiap perbincangan, mereka membicarakan tentang Kebenaran Sejati yang telah menjadi abstrak dalam pemikiran Kuyper yang liberal. Kuyper mengungkapkan kesaksiannya atas jemaat tersebut dengan mengatakan:

“I did not set myself against them, and still thank my God that I made the choice I did. Their unwavering persistence has been a blessing for my heart… In their simple language, they brought me to that absolute conviction in which alone my soul can find rest – the adoration and exaltation of a God who works all things, both to do and to will, according to his good pleasure.” (Louis Praamsma, Let Christ be King: Reflection on the Life and Times of Abraham Kuyper, Jordan Station, Ontario, Canada: Paideia Press, 1985.p.49)

Berangkat dari titik ini, Kuyper menjadi sangat dipakai Tuhan dalam pelayanan Firman Tuhan. Kuyper membentuk satu pengajaran Firman Tuhan dan pemahaman iman reformed ortodoks. Dengan pemahaman yang semakin dewasa secara biblical, Kuyper banyak mengadakan perubahan dalam Dutch Church dan masyarakat Belanda. Perubahan ini berpengaruh dalam penggembalaan gereja-gereja di Utrecht dan Amsterdam dan masih tersisa sampai pada abad ke-20.

Jurnalis
Kuyper menjadi editor-in-chief pada koran mingguan De Heraut (The Herald) mulai 1871 dan chief editor pada harian De Standaard (The Standard) sejak 1872. Melalui media ini Kuyper memberikan kepemimpinan yang jelas dan inspirasional yang sangat berpengaruh terhadap reformasi kekristenan – dari teologi yang liberal menuju teologi reformed di Belanda. Kuyper menulis kepada orang kelas bawah seperti petani, nelayan, dan pegawai toko sama-baiknya dengan dia menulis kepada guru-guru sekolah, pelajar, mahasiswa, gembala dan pebisnis. Pesannya singkat namun dalam: “prinsip-prisip Iman Kristen terhadap dosa, keselamatan dan pelayanan harus diaplikasikan dalam setiap area kehidupan untuk kemuliaan Allah.”

Dalam sebuah komentarnya pada De Standaard tanggal 18 September 1877, atas sebuah pergumulan percaya dan ketidakpercayaan mengenai permasalahan konsep pendidikan publik dan pendidikan Kristen, Kuyper menuliskan,

“Those who have definitely broken with Christendom defend the religiously neutral public school with all their might. They may claim that such a school is not anti-Christian, but is what it promotes. Christians, on other hand, recognize that education in Christian virtues without Christ leads to doctrinal vagueness. They deny that Christian Education leads to rank intolerance. The Liberals in public express their hatred for Christian education, while many Christian schools witness to the truth of our claims.”

Kuyper menghabiskan waktu hampir 50 tahun sebagai editor pada harian De Standaard. Dia menghasilkan kira-kira 4.700 tulisan pada harian ini, dengan berbagai topik mulai filsafat, teologi, pendidikan, politik dan budaya. Selain itu Kuyper juga menulis beberapa buku teologi, salah satu yang terkenal berjudul The Crown of Christian Heritage, yang aslinya ditulis dengan judul Lectures on Calvinism (Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1931)

Politikus dan Negarawan
Pada tahun 1869, Kuyper bertemu dengan Green van Prinsterer, seorang Calvinis yang juga anggota parlemen. Dengan Prinsterer, Kuyper membentuk suatu partai politik modern bernama Anti-Revolutionary Party. Partai ini memiliki program politik yang mencakup semua bidang hukum publik, pergumulan sekolah, masalah penjajahan dan masalah- masalah sosial. Kuyper dan partainya juga mencetuskan penghentian penjajahan atas negara-negara koloni Belanda dan perbaikan kesejahteraan buruh industri. Di akhir 1901, partai ini meraih suara yang sangat besar di parlemen, yang mengantarkan Kuyper menjadi Perdana Menteri Belanda. Kuyper melayani dalam kapasitas ini sampai pada 1905.

Fitur karakteristik dalam pemikiran politik yang diperkenalkan oleh Abraham Kuyper adalah prinsip soevereignity in eigen kring atau dalam bahasa Inggrisnya Sphere Sovereignity. Sphere Sovereignity berimplikasi pada tiga hal: (1) Kedaulatan yang Mutlak hanya milik Allah; (2) semua kedaulatan yang ada di muka bumi berada di bawah dan diturunkan dari Kedaulatan Allah; (3) tidak ada satu kedaulatan di bumi yang lebih tinggi dari kedaulatan lain yang ada di bumi. Sphere sovereignity berfungsi sebagai cara untuk membatasi manusia dan institusi yang korup dan memberikan tuntunan dalam tindakan ketika konflik terjadi.

Pendidik dan Teolog
Selain mengajar di Free University, Belanda, yang dibentuk Kuyper untuk menghasilkan sarjana-sarjana menantang jamannya saat itu, melalui kuliah-kuliahnya di Princeton Theological Seminary dan Westminster Seminary Kuyper juga membuka wawasan teologia bagi dunia- berbahasa-Inggris dengan Stone Lectures, judul yang dibawakannya dalam mata kuliah Calvinisme. Kuliah ini adalah sebuah pemahaman komprehensif atas kekristenan yang ditarik dari tradisi Calvin. Stone lectures berisi enam diktat membahas tentang: (1) On Calvinism as a Life System; (2) On Calvinism and Religion; (3) On Calvinism and Politics; (4) On Calvinism and Science; (5) On Calvinism and Art dan (6) On Calvinisme and the Future. Dalam teologi, J. Gresham Manchen dari Baltimore dan Cornelius van Til adalah dua orang yang sangat dipengaruhi Kuyper Hampir semua hidup Abraham Kuyper dibaktikan untuk men-TUHAN-kan Kristus dalam segala aspek. Sangat sulit untuk menjumpai seorang gembala yang juga teolog, politikus, jurnalis, pendidik, ilmuwan, budayawan di zaman kita ini.

“Kuyper”s greatest legacy is the witness of a worldview – a witness that is greatly needed in our dying culture.”
McKendree R. Langley

Gandum dan Ilalang

Posted: 23 November 2011 in Alkitab

Dalam Perjanjian Lama kata Ibrani “malak” yang sering diterjemahkan sebagai “malaikat” kadang-kadang juga diterjemahkan sebagai “pembawa pesan” (messenger). Sama juga halnya dalam Perjanjian Baru, kata Yunani “aggelos” yang sering diterjemahkan sebagai “malaikat” kadang-kadang juga diterjemahkan sebagai “pembawa pesan”. Ketika kita memperhatikan dengan teliti ayat-ayat yang menggunakan ungkapan ini, kita menemukan bahwa Tuhan bisa menggunakan ungkapan ini untuk menunjuk kepada diri-Nya sendiri, bisa menunjuk kepada malaikat dan bisa juga menunjuk kepada manusia yang mempunyai pesan untuk dikabarkan. Kita harus memperhatikan konteks dari ayatnya dengan teliti untuk menentukan terjemahan yang benar dari ungkapan ini. Misalnya di Maleakhi 3:1 dimana kita baca:

“Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku [malak], supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku! Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya! Malaikat [malak] Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang, firman TUHAN semesta alam.”

Kata “malak” (malaikat) digunakan dua kali dalam ayat ini. Yang pertama sudah pasti menunjuk kepada Yohanes pembaptis yang diutus mendahului Tuhan Yesus untuk mengabarkan berita tentang Yesus Kristus sebagai “Anak Domba Allah” (Yohanes 1:29). Dan kata “malak” yang kedua jelas menunjuk kepada Tuhan Yesus sendiri, yang adalah pembawa pesan dari Perjanjian itu.

Dalam Perjanjian Lama kata “malak” lebih dari 100 kali diterjemahkan sebagai “malaikat” dan hampir 100 kali diterjemahkan sebagai “pembawa pesan”. Biasanya ketika hal itu menunjuk kepada “pembawa pesan” ini sedang berbicara tentang seseorang yang membawa suatu berita kepada orang lain. Tetapi seperti yang kita lihat dalam kitab Maleakhi, pembawa pesan itu juga bisa menunjuk kepada Tuhan sendiri.

Sedangkan dalam Perjanjian Baru kata “aggelos” (malaikat) kira-kira 180 kali diterjemahkan sebagai “malaikat” dan 7 kali diterjemahkan sebagai “pembawa pesan”.
Misalnya Matius 11:10 berbicara tentang Yohanes pembaptis sebagai “pembawa pesan” (utusan) dari Tuhan, disitu kita baca:

“Karena tentang dia ada tertulis: Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku [aggelos] mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan-Mu di hadapan-Mu.”

Karena itu kita bisa mengerti sekarang bahwa kata Ibrani “malak” dan kata Yunani “aggelos” yang seringkali diterjemahkan sebagai malaikat harus diperiksa konteksnya dengan teliti untuk menentukan apakah ungkapan itu sedang menunjuk kepada Tuhan sendiri, malaikat atau juga manusia.

Ini menjelaskan tentang kata “malaikat” di Matius 13 dimana sedang Tuhan berbicara mengenai malaikat yang mengumpulkan “hasil panen” pada akhir zaman.

Di Matius 13:36-43 kita baca:

“Maka Yesuspun meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Murid-murid-Nya datang dan berkata kepada-Nya: “Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu.” Ia menjawab, kata-Nya: “Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia; ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan dan lalang anak-anak si jahat. Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman dan para penuai itu malaikat [aggelos]. Maka seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman. Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya [aggelos] dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan DARI DALAM KERAJAAN-NYA. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!”

Dalam kebanyakan translasi kata ini diterjemahkan sebagai “malaikat”, tetapi siapakah para pembawa pesan dari Kerajaan Allah yang memberitakan Injil kepada dunia untuk mengumpulkan umat-Nya ke dalam –Yerusalem yang baru– ?

Di Yohanes 4:35-38 kita baca:

“Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai. Sekarang juga penuai telah menerima upahnya dan ia mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal, sehingga penabur dan penuai sama-sama bersukacita. Sebab dalam hal ini benarlah peribahasa: Yang seorang menabur dan yang lain menuai. Aku mengutus kamu untuk menuai apa yang tidak kamu usahakan; orang-orang lain berusaha dan kamu datang memetik hasil usaha mereka.”

Ayat-ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa “para penuai” itu adalah orang-orang percaya. Mereka adalah para pembawa pesan yang diutus untuk memberitakan Injil kepada dunia. Dan ketika Injil diberitakan Roh Kudus akan membuat firman itu bersemayam didalam hati mereka yang sudah dipilih untuk diselamatkan. Jadi mereka yang diselamatkan melalui pemberitaan itu menjadi hasil panen yang dibawa masuk kedalam Kerajaan Allah.

Kembali ke Matius 13:36-41 yang berbicara tentang pemisahan gandum dan lalang, malaikat-malaikat tidak mengumpulkan hasil panen itu. Hasil panen itu dikumpulkan oleh orang-orang percaya yang memberitakan Injil ke seluruh dunia supaya panen, yaitu –orang-orang yang diselamatkan– dapat dikumpulkan ke dalam Kerajaan Allah.

Jadi dalam perumpamaan “gandum dan lalang” (Matius 13:24-30), gandum itu menunjuk kepada orang-orang percaya yang sudah diselamatkan, dan lalang itu menunjuk kepada orang-orang yang tampak luar seperti gandum tetapi sebetulnya belum pernah diselamatkan. Dan ketika perumpamaan itu berlanjut, orang-orang percaya yang sejati juga disebut sebagai para “pembawa pesan” (penuai) yang mengumpulkan hasil panen gandum pada akhir zaman (final harvest).

Dan di Matius 12:30 Yesus berkata:

“Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan.”

Bukti-Bukti External

Ada banyak bukti-bukti external, yaitu fakta-fakta diluar Alkitab yang memperlihatkan bahwa Alkitab adalah sumber informasi yang dapat dipercaya.

Bukti-Bukti Ilmiah

Belum ada bukti-bukti ilmiah yang dapat menyatakan kesalahan pernyataan-pernyataan apapun yang ada di dalam Alkitab. Walaupun ada banyak orang yang mengatakan, “Alkitab adalah bukan buku ilmiah, tetapi itu ditulis untuk memberikan pandangan mengenai keagamaan atau kerohanian.” Walaupun begitu seluruh isi Alkitab adalah mutlak dapat dipercaya dalam hal ilmiah maupun rohani.

Ketepatan catatan dari benda-benda, peristiwa-peristiwa, orang-orang dan tempat-tempat didalam Alkitab memperlihatkan integritas Tuhan. Tuhan telah memberikan pernyataan-pernyataan yang harus diterima secara utuh dimana hal ini memperlihatkan kemampuan Tuhan untuk menjaga ketepatan isi Alkitab selama berabad-abad. Kita tidak akan bisa melampaui batas kepercayaan akan ketepatan pernyataan-pernyataan tentang dunia ini seperti yang tertulis didalam Alkitab karena hal itu menunjukkan bahwa Tuhan-lah yang mengarang Alkitab.

Bukti-bukti Geography

Sementara Alkitab tidak ditulis untuk mengajarkan prinsip-prinsip ilmu alam akan tetapi setiap topik yang membicarakan ciptaan Tuhan didalam Alkitab adalah sangat benar dan akurat. Dalam satu hal Alkitab menyatakan secara benar di Ayub 26:7 bahwa bumi berbentuk bulat, dan pernyataan ini ditulis kira-kira 3000 tahun sebelum Masehi. Deskripsi yang tepat mengenai bentuk bumi ini begitu berlawanan dengan pendapat atau kepercayaan kebanyakan orang yang hidup pada masa itu dimana mereka percaya bahwa bumi ini berbentuk datar. Dan Yesaya 40:22 juga menyatakan hal yang sama bahwa Tuhan bertakhta di atas “bulatan bumi”. Pernyataan di Yesaya 40:22 adalah pararel dengan pernyataan di Ayub 26:7 yang menyatakan telah menyebutkan bentuk bumi dengan benar, dan kebenaran-kebenaran seperti itulah yang selalu kita dapatkan dari Alkitab. Lagipula siapakah yang lebih mengetahui daripada sang Pencipta sendiri tentang bagaimana alam semesta ini dibuat?

Bukti-bukti Arkeologi

Salinan yang tertua dari puisi-puisi atau karangan-karangan Yunani adalah 800 sampai 1000 tahun lebih baru daripada tulisan yang aslinya. Tapi, tidak ada ilmuwan yang akan menerima pernyataan bahwa tulisan-tulisan Yunani ini telah menyeleweng dari tulisan yang aslinya dan seharusnya dibuang. Tetapi salinan tertua dari kitab-kitab Perjanjian Lama hanyalah 200 tahun lebih baru dari tulisan aslinya. Dan salinan tertua dari kitab-kitab Perjanjian Baru tertanggal 50 sampai 80 tahun setelah tulisan aslinya. Dari dasar informasi ini, Alkitab seharusnya dipercayai paling tidak seperti tulisan-tulisan Yunani lainnya, yang sampai sekarang masih sangat dipercaya.

Penemuan-penemuan arkeologi banyak yang memperkuat bukti integritas dari Alkitab yang menyebabkan para arkeolog yang dulunya melecehkan Alkitab menjadi berbalik dari menentang menjadi percaya kepada Alkitab. Selama berabad-abad ada banyak orang-orang yang meragukan kebenaran Alkitab karena Alkitab menyebutkan begitu banyak nama bangsa-bangsa kuno yang telah lama menghilang. Contohnya di Kejadian 15:20 Alkitab menyebutkan tentang suku bangsa Het. Dan ternyata beberapa ratus tahun yang lalu para arkeolog menemukan reruntuhan sebuah kota yang terletak di Turki, yaitu disebelah Utara dari tanah Israel, yang ternyata adalah reruntuhan dari kota utama bangsa Het.

Dalam kasih karunia Tuhan, pada sekitar tahun 1950 ditemukan gulungan-gulungan kitab di sebuah gua yang bernama Qumran didekat Laut Mati. Hebatnya karena kondisi gua yang sangat-sangat kering gulungan-gulungan kitab ini berada dalam taraf yang baik dan tidak mengalami kehancuran, kitab-kitab ini dapat dibuka dan dibaca. Penemuan yang paling menakjubkan adalah salinan dari kitab Yesaya. Menurut uji carbon 14, penanggalannya adalah 100 tahun sebelum Masehi, itu adalah 1000 tahun lebih awal daripada salinan yang dipergunakan sebelumnya. Selisihnya hanya sekitar 600 tahun dari teks yang aslinya. Dan para ahli menemukan kalau ini adalah identik dengan tulisan Yahudi (Ibrani) yang digunakan untuk menterjemahkan alkitab King James yang diterbitkan pada tahun 1611. Jadi, gulungan-gulungan kitab ini menolong untuk membuktikan fakta bahwa kita sesungguhnya mempunyai Injil sejati yang asli.

Bukti-bukti Sejarah

Alkitab juga berbicara mengenai kejadian-kejadian jauh dari sebelum hal itu terjadi. Nabi Yesaya pernah berbicara mengenai seorang raja Persia yang bernama Koresh (Yesaya 45:1) dimana dinubuatkan bahwa dia-lah yang akan membangun kembali bangsa Yehuda. Persia adalah sebuah kerajaan besar yang terletak disekitar negara Iran. Yesaya menulis nubuat ini pada masa pemerintahan raja Hizkia yang meninggal pada tahun 687 sebelum Masehi. Dan Koresh tidak mulai memerintah sebagai raja sampai tahun 600 sebelum Masehi, ini adalah lebih dari 80 tahun setelah nubuat itu ditulis. Hanya Tuhan saja yang dapat mengetahui nama dari raja Persia sebelum dia naik ke atas tahta.

Kemudian Alktiab mempunyai banyak nubuat-nubuat mengenai Yesus Kristus yang ditulis 1000 tahun sebelum Dia dilahirkan. Hal ini mungkin sedikit tersembunyi yang hanya terlihat bila kita memperhatikan setiap kata dengan teliti, tetapi sebetulnya setiap kitab-kitab dalam Perjanjian Lama dengan jelas menunjuk kepada Yesus. Contohnya, perhatikanlah dengan sangat teliti nubuat-nubuat yang ditulis dalam Mazmur 22, Yesaya 53 dan Mikha 5:2.

Melihat fakta-fakta bersejarah ini, kita dihadapkan hanya kepada dua kemungkinan. Apakah Alkitab itu dikarang oleh Dia yang tidak mempunyai batas waktu, atau itu hanyalah sebuah lelucon yang ditulis oleh seseorang setelah kejadian itu terjadi untuk membuat Alkitab kelihatan hebat. Pilihan yang benar adalah: Alkitab merupakan satu-satunya firman Tuhan yang sejati.

Bukti Dari Pengalaman Pribadi

Salah satu sumber lain dari kebenaran Alkitab adalah pengalaman pribadi dari mereka-mereka yang sudah dirubah hidupnya oleh Alkitab. Ada perubahan yang besar dan nyata didalam hidup orang-orang yang percaya kepada Kristus dan berjalan menurut firman-Nya, yaitu Alkitab. Dalam kata lain Alkitab sanggup melakukan kepada orang-orang yang percaya janji-janji yang terkandung didalamnya.

Alkitab menjanjikan pembebasan dari hari pengadilan terakhir dan memberikan kepastian tidak akan adanya hukuman bagi orang-orang yang percaya (Yohanes 5:24, Roma 8:1,16, 1 Yohanes 4:18). Alkitab menjanjikan orang-orang yang percaya akan dibersihkan secara rohani (Mazmur 119:9,11, Yohanes 15:3). Alkitab menjanjikan kebebasan dari perbudakan dosa dan kemenangan total (Yohanes 8:34-36, Roma 6:18, Kolose 3:1-2). Alkitab memberikan arti dan tujuan dari hidup ini (1 Petrus 2:9).

Semua hal-hal ini adalah bagian dari pengalaman pribadi orang-orang yang percaya. Orang-orang yang percaya mengalami hidup yang baru yang menjadi bukti bahwa mereka tidak lagi dipenuhi dengan kepahitan atau penyesalan tentang masa lalu mereka ketika mereka mengetahui pengampunan Tuhan (Ibrani 10:16-17). Bahkan orang-orang yang percaya berani berkorban untuk sesamanya manusia karena mereka mengetahui bahwa mereka selalu dapat bergantung kepada Tuhan. Seseorang yang percaya kepada Alkitab mempunyai pengalaman rohani pribadi yang mengetahui dengan pasti bahwa Alkitab adalah bukan sekedar tulisan-tulisan puisi biasa, tetapi itu adalah firman Tuhan yang bersaksi jauh kedalam hati mereka.

Kesaksian Alkitab

Alkitab sendiri bersaksi bahwa ia berasal dari Tuhan. Misalnya di 2 Samuel 23:2 Daud, yang menulis banyak bagian dari kitab Mazmur, menyatakan bahwa apa yang ditulisnya berasal dari Tuhan. Nabi Yeremia menyatakan hal yang sama (Yeremia 1:4), juga rasul Paulus (1 Tesalonika 2:13). Dan di 2 Petrus 3:16 rasul Petrus menyatakan bahwa tulisan-tulisan Paulus adalah bagian Kitab Suci (scriptures). Yesus sendiri membuat banyak pernyataan-pernyataan bahwa Alkitab mutlak dapat dipercaya (Lukas 16:17, 24:44, Yohanes 17:17). Dan Yesus seringkali menggunakan kisah-kisah dari Perjanjian Lama sebagai peristiwa-peristiwa yang nyata (Lukas 11:51, 17:26-33).

Kesatuan Alkitab

Alkitab terdiri dari 66 buku yang ditulis selama periode waktu lebih dari 1500 tahun, dari zaman Musa (1400 Sebelum Masehi) sampai zaman rasul Yohanes (kira-kira 100 Masehi). Jumlah penulisnya sedikitnya ada 40 orang. Beberapa dari pengarangnya hidup terpisah 600 mil jauhnya, dan kebanyakan dari mereka tidak mengenal satu sama lain. Tetapi kata-kata yang tertulis di dalam Alkitab mempunyai pesan yang sama, dan mempunyai satu kesatuan yang sempurna secara keseluruhan.

Satu-satunya alasan kenapa bisa terjadi seperti itu karena Tuhan-lah yang mengarang Alkitab. Tuhan menggunakan orang-orang ini untuk menulis apa yang Ia ingin tuliskan kepada umat manusia. Setiap kata dan setiap huruf didalam aslinya (Ibrani untuk Perjanjian Lama dan Yunani untuk Perjanjian Baru) adalah tepat seperti apa yang Tuhan ingin sampaikan kepada umat manusia. Para penulis ini hidup dan mati di zaman yang berbeda-beda, tetapi Tu493 yang sama yang hidup selama-lamanya yang memberitahukan kepada orang-orang ini apa yang harus mereka tulis. Untuk alasan ini, kita bisa selalu bisa membandingkan bagian-bagian yang berbeda dari Alkitab dan menemukan bahwa mereka adalah saling melengkapi, saling menjelaskan, dan sangat konsisten satu dengan yang lainnya (1 Korintus 2:13). Kita dapat membaca bagian yang mana saja dari Alkitab dan menemukan firman Tuhan disana.

Isi Alkitab

Hal yang paling menakjubkan yang dapat kita temukan didalam Alkitab adalah hal-hal yang dibicarakan didalamnya. Ada hal-hal di dalam Alkitab yang kita ketahui bahwa hanya Tuhan saja yang dapat menulis pernyataan-pernyataan yang seperti itu. Misalnya Alkitab menyatakan di Yohanes 10:30 Yesus berkata bahwa Ia adalah Allah. Di Yohanes 20:28 seorang murid menyatakan bahwa Yesus adalah Allah. Dan di Ibrani 1:8 Bapa menyatakan bahwa Yesus adalah Allah. Kesimpulan terakhir dari kesaksian-kesaksian ini adalah apakah Alkitab itu gila atau itu adalah benar-benar berisikan firman-firman Tuhan.

Contoh lain yang penting adalah bahwa Alkitab membicarakan masalah dosa (1 Yohanes 3:14). Tidak ada orang lain yang mempunyai keberanian untuk menuliskan kenyataan-kenyataan hidup manusia seperti yang tertulis didalam Alkitab. Alkitab memberikan gambaran yang menyeramkan dari upah dosa. Alkitab menyinggung kita, dan kita tidak selalu menyukai apa kita baca didalamnya. Ini menerangkan mengapa kita sulit untuk mempercayai Alkitab.

Masalahnya adalah bukan bukti kebenarannya melainkan hati kita. Siapa yang ingin mengetahui bahwa sebenarnya dia sedang berada didalam bahaya, seorang penjahat, seorang pendosa yang busuk dan buruk? Siapa yang akan bersuka-cita sewaktu dia diberitahu bahwa dia sedang berjalan menuju ke neraka, dimana dia akan menderita selamanya dibawah murka Tuhan? Siapa yang menyambut pengetahuan bahwa tidak ada kebaikan apapun sama sekali didalam dirinya dan sebenarnya dia sedang berada didalam pemberontakan melawan Tuhan yang telah menciptakannya?

Hanya Tuhan saja yang dapat berkata jujur kepada kita karena hanya Dia saja yang mengetahui kebenaran. Hanya Tuhan yang mau berterus-terang kepada kita untuk menyatakan kasih-Nya. Kasih sejati tidak dinyatakan dengan kata-kata yang mencoba untuk membuat kita merasa enak dan nyaman dengan cara menyanjung, tapi meninggalkan kita didalam kesusahan karena mereka tidak mempunyai pengharapan yang nyata. Kasih yang sejati dinyatakan dalam kebenaran, karena itu adalah satu-satunya hal yang dapat menyelamatkan kita.

Kejujuran Alkitab tentang manusia tidak menarik, tetapi Alkitab berisi kata-kata dari seorang teman sejati. Tuhan mengetahui bahwa kita sedang berjalan dipinggir jurang, dan siap untuk jatuh ke dalam neraka. Dia memberitahu persisnya apa yang kita butuhkan untuk menghindari kemalangan ini. Walaupun Alkitab tidak akan tampil sebagai salah satu dari sepuluh buku paling populer tahun ini, tapi hanya Alkitab yang dapat memberikan janji-janji seperti yang Yesus katakan di Matius 11:28-30:

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.”

Pesan-pesan Alkitab

Ada satu hal terakhir yang harus kita pertimbangkan untuk menilai kebenaran Alkitab. Kebanyakan orang percaya akan adanya Tuhan. Tapi jika Tuhan itu memang Tuhan, berarti Dia berkata-kata dengan kuasa yang mutlak dan kita harus berserah kepada perintah-perintah-Nya. Dengan kata lain, apa yang kita pikirkan tentang firman-Nya dan bagaimana kita bereaksi terhadapnya, mengambarkan pikiran kita tentang Tuhan. Kita tidak dapat memisahkan Tuhan dan Alkitab-Nya. Kita tidak harus percaya kepada Alkitab, tetapi kita akan menghadapi akibatnya. Kalau seseorang tidak percaya kepada Tuhan yang membuat Alkitab maka dia akan bertingkah-laku menurut jalan pikirannya itu, dan kepahitan serta kehidupan yang egois itulah yang mereka akan tuai tepat seperti yang Alkitab katakan. Ini adalah bukti yang mengerikan. Dan mereka juga harus menghadap murka Tuhan yang akan mengejar mereka sampai diluar batas liang kubur dan mereka akan dibangkitkan kembali untuk dihakimi oleh sang Hakim (Yesus Kristus adalah firman Tuhan) pada hari penghakiman terakhir seperti yang dikatakan Alkitab

Mempertanyakan tentang kebenaran Alkitab adalah hal yang baik, dan Alkitab mampu untuk melewati pemeriksaan-pemeriksaan yang ada dan menjawab semua pertanyaan yang ada dan dapat menghapuskan keragu-raguan kita. Yakobus 1:6 menyatakan bahwa kita tidak perlu ragu-ragu untuk meminta kepada Tuhan supaya kita mempercayai firman-Nya dan meminta kebijaksanaan untuk mendapatkan hadiah yang terbaik yang bisa kita dapatkan dari Alkitab. Tetapi, untuk mempelajari Alkitab adalah sesuatu yang suci. Hanya kalau kita menghampiri Alkitab dengan rendah hati dan pikiran yang terbuka untuk kebenaran maka kita akan bisa menemukan jawaban-jawaban yang kita perlukan. Dan kita dapat berdoa, “Ya Tuhan saya tidak tahu apa-apa, ajarkanlah saya.”

“firman-Mu adalah kebenaran.”
(Yohanes 17:17)

Sumber: http://www.familyradio.com

Alkitab dan Kartu Remi

Posted: 23 November 2011 in Alkitab

Ini kisah tentang seorang prajurit di kawasan Afrika Utara saat Perang Dunia II. Setelah pertempuran dahsyat, mereka kembali ke perkemahan. Keesokan hari, pada hari Minggu, pendeta mengadakan kebaktian. Para prajurit diminta mengeluarkan Alkitab dan buku doa mereka.

Pendeta itu melihat salah seorang prajurit malah asyik memperhatikan setumpuk kartu. Setelah kebaktian, ia mengajak prajurit itu menemui komandannya.

Pendeta itu pun menjelaskan apa yang sudah dilihatnya. Sang komandan mengatakan kepada prajurit muda itu bahwa ia akan dihukum kalau tidak dapat memberikan penjelasan yang memuaskan.

Prajurit muda itu menceritakan bahwa selama bertempur, ia tidak memiliki Alkitab atau buku doa, sehingga ia menggunakan setumpuk kartu. Ia menjelaskan :

“Pak, kalau saya melihat kartu “As”, saya diingatkan bahwa hanya ada satu “Allah” dan tidak ada yang lain.

Kalau saya melihat kartu “2”, saya diingatkan ada dua bagian Alkitab, “Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru”.

Kartu “3” menyatakan tentang Allah Tritunggal: “Bapa, Anak dan Roh Kudus”.

Kartu “4” mengingatkan saya pada empat Injil : “Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes”.

Kalau melihat kartu “5”, saya teringat pada “Lima gadis yang bijaksana dan yang bodoh”.

Kartu “6” membuat saya teringat bahwa “Allah menciptakan bumi selama enam hari, dan mengatakan bahwa itu baik”.

Kalau melihat kartu “7”, saya teringat bahwa “Allah beristirahat pada hari ketujuh”.

Ketika melihat kartu “8”, kartu itu menunjukkan bahwa “Allah membinasakan seluruh kehidupan dengan air bah, kecuali delapan orang, Nuh, istrinya, tiga anak laki-lakinya dan tiga menantunya”.

Ketika melihat kartu “9”, saya teringat pada “sembilan penderita kusta yang Tuhan sembuhkan. Sebenarnya ada sepuluh penderita kusta, namun hanya satu yang kembali untuk berterima kasih kepadaNya”.

Kartu “10” mengingatkan saya pada “Sepuluh Perintah Allah yang dituliskan pada loh batu oleh tangan Allah sendiri”.

Kartu “Jack” membuat saya teringat pada “penguasa kegelapan, seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya”.

Kartu “Ratu” mengingatkan saya pada “perawan Maria yang berbahagia, Ibu Yesus”.

Dan ketika melihat kartu terakhir “Raja”, saya diingatkan bahwa “YESUS adalah TUAN DI ATAS SEGALA TUAN dan RAJA ATAS SEGALA RAJA”.”

 

Tak Perlu Risau

Posted: 22 November 2011 in Renungan

Lukas 1:30

Kata malaikat itu kepadanya: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia dihadapan Allah.

 

Perkataan “Jangan takut” yang disampaikan oleh malaikat Tuhan (Gabriel)  kepada Maria adalah perkataan kedua setelah malaikat itu menyapaikan “salam”sebagai perkataan pertama.

 

Arti kata Takut (KBBI):

  1. Merasa gentar (ngeri) menghadapi sesuatu yang dianggap akan mendatangkan bencana.
  2. Tidak berani (berbuat, menempuh, menderita)
  3. Rasa gelisah, khawatir, dan kacau balau.

 

Mengapa Gabriel berkata kepada Maria “jangan takut”.. ? Sebab Gabriel membawa berita baik. Berita yang dinanti-nantikan ribuan tahun setelah para nabi menubuatkan dalam Perjanian Lama.

 

Beberapa Nubuat dalam PL yang digenapi dalam PB tentang  Yesus Kristus :

 

  1. Yesaya 7:14                    Lukas 1:26-31
  2. Yesaya 9:1                     Mat 4:13-16
  3. Zakharia 9:9                  Mark 11:7-11

 

Sebagai anak Tuhan, kita tidak perlu risau dihari-hari ini. Mengapa..? Sebab Dia sudah datang, Dia selalu hadir dalam kehidupan setiap kita.

 

Yesus memberi kepastian buat kita semua. Ada 7 peryataan Yesus untuk meyakinkan kita bahwa Anda benar2 tidak perlu risau/takut.

  1. 1.      Roti  Yohanes 6:35
  2. 2.      Terang Yohanes 8:12
  3. 3.      Pintu  Yohanes 10:9
  4. 4.      Gembala Yang Baik Yohanes 10:11
  5. 5.      Kebangkitan Dan Hidup Yohanes 11:25
  6. 6.      Jalan, Kebenaran, Hidup Yohanes 14:6
  7. 7.      Pokok Anggur Yang Benar Yohanes 15:1

  

Tuhan Yesus Memberkati

 

Siapakah kakek Yesus ?

Posted: 18 November 2011 in Kumpulan tanya-jawab

Siapakah kakek Yesus ?
a. Yakub (Matius 1:6).
b. Eli (Lukas 3:31).

JAWAB :

Manusia normal memiliki satu ayah kandung dan satu ibu kandung. Masing-masing orang tua kandungnya pun memiliki satu ayah kandung dan satu ibu kandung, tentu saja manusia itu memiliki dua orang kakek yaitu kakek dari sebelah ayah dan kakek dari sebelah ibu. Yakub adalah orang tua Yusuf, ayah angkat Yesus Kristus sedangkan Eli adalah orang tua Maria, ibu Yesus.